Warna-Warni Sayap Kupu-Kupu

7 Juli 2020

Selasa siang,

Waktunya jurnal bunda cekatan. . .

Minggu ini kami diminta untuk merayakan keberhasilan dengan memberikan surat kepada mentee dan atau mentor. Tadi pagi, saya dan mentor berbalas surat. Begini isinya

Setelah beberapa waktu lalu melakukan false celebration, lalu minggu lalu menuliskan kemajuan, minggu ini kami merayakan keberhasilan bersama dengan saling berterima kasih lewat surat. Pengalaman yang menyenangkan dan indah. Semoga perjalanan kami berdua melawati fase ini di ridloi Allah. Aamiin.

Selain saling merayakan keberhasilan, minggu ini kami diminta untuk mewarnai kupu-kupu. Warnanya terserah kami. Bisa disesuiakan dengan kondisi emosi masing-masing selama menjalani proses mentoring.

Penasaran dengan warna kupu-kupu saya??

Berikut kupu-kupu saya dengan warnanya.

Berbekal gambar yang di print dan krayon anak-anak, saya mewarnainya. Ada warna gelap, ada pula warna terang. Begitulah saya menggambarkan kupu-kupu saya di program mentorship. Warna gelap menunjukkan bahwa ada kalanya saya merasa malas, jenuh, tak mengerti dan melakukan kesalahan. Warna cerah menunjukkan bahwa ada hal positif yang saya dapat selama mentorsip. Yaitu mendapatkan mentor yang kompeten, mendapat ilmu dari mentor yang dapat diaplikasikan, juga mendapat proses penuh insigh dari perjalanan kelas ini yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan.

Nyatanya, warna gelap yang ada dalam sayap kupu-kupu tak mengurangi keelokan si kupu-kupu bukan? Bahkan menambah keindahan karena lebih berwarna dan lebih hidup. Terlepas dari kemampuan saya mewarnai yang minim yaa. hihihihi. . .

Begitupun dengan kegagalan, kesalahan, kebosanan, atau perasaan lain yang muncul saat mentoring. Tidak menjadikan si kupu-kupu menjadi monster. Selama dia menyadari, menerima dan berusaha untuk memperbaikinya, proses itu hanya akan memperkaya warna di sayapnya. Bahkan membuatnya menjadi dinamis dan cantik.

Laluu,,, sayapun mulai berpikir. . .

Tentang perjalanan saya sebagai ibu. . .

Tentang cita-cita saya menjadi ibu pendidik rumahan. . .

Seharusnya seperti itulah saya. . .

Tak apa saat sesekali memberikan telepon genggam kepada anak.

Tak apa saat sesekali memihak pada anak saat mereka bertengkar.

Tak apa saat membentak anak saat kesalahan anak tak seberapa.

Tak apa saat seharian tak bisa memberikan kegiatan bermanfaat untuk anak.

Karena apa??

Karena ibu juga manusia. Butuh proses untuk menjadi ibu yang profesional yang tentu saja melalui proses yang tak mudah dengan banyak melakukan kesalahan. Namun, kesalahan-kesalahan itu tak lantas menjadikan seorang ibu menjadi ibu gagal. Seperti halnya kupu-kupu di atas, warna gelap tak menjadikannya monster. Dia tetap kupu-kupu indah dengan corak warna yang beragam.

Jadi, untuk diriku,

Jika kamu merasa bahwa kamu merasa gagal, bersalah, sedih, marah, jengkel pada dirimu sendiri saat melakukan kesalahan pada anak,

Berproseslah untuk menerima semua emosi itu. Lalu maafkan dirimu. Sembari berproses untuk lebih baik. Dan tak lupa mintalah pada Allah untuk selalu menjaga dan mendidik anak-anak.

Sungguh, andai kita hanya mengandalkan kemampuan kita saja dalam mendidik anak-anak kita, tentulah anak-anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang kacau dan durhaka. Namun, Allah tak pernah tidur menginterverensi dan memperbaiki segala kelemahan dan kesalahan kita dalam mendidik anak-anak kita. Maka setiap malam sebelum tidur bermohonlah kepada Allah agar Ia mendidik anak-anak kita, serta mengoreksi segala kesalahan dan kelemahan kita.

Buku Fitrah Based Education hal. 336.

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *