Terlahir Introver dan Pendiam, Salahkah?

13 April 2019

Sumber gambar
www.quotemaster.org

Memiliki anak periang, mudah bergaul, banyak teman, tak takut orang dan tempat baru tentu adalah idaman semua orang tua.

Sedangkan menghadapi anak yang pendiam, tak mudah bergaul, tak memiliki banyak teman, atau lebih suka menyendiri biasanya membuat orang tua khawatir dan mempertanyakan apa yang terjadi pada mereka.

Hari Ahad kemarin, saat mengikuti sharing sesion bersama ayah Kholiq (pendiri SKIS, praktisi HE, fasilitator Hebat community) pun beberapa teman ada yang bertanya tentang ini.

Bertanya mengapa anak beliau pendiam sekali.

Jawaban ayah Kholiq adalah bagus.

Iya, bagus, apalagi untuk anak perempuan. Malu adalah hal yang bagus.

Kemudian ada pertanyaan juga mengapa anaknya tak menyapa teman yang dulu pernah satu kelas.

Kata ayah Kholiq adalah tak apa-apa.

Beliau menjelaskan bahwa anak tersebut berkepribadian introvert. Sebenarnya introvert dan ekstrover sama-sama kepribadian yang baik. Hanya saja kadang budaya kita melihat bahwa anak yang grapyak, suka menyapa, pintar bersosialisasi lebih baik dan lebih mendapat perhatian. Padahal sejatinya mereka sama.

Nah sebenarnya apa sih introvert itu

Menurut KBBI

in.tro.ver /introvèr/

  1. a bersifat suka memendam rasa dan pikiran sendiri dan tidak mengutarakannya kepada orang lain; bersifat tertutup

Introver adalah pribadi yang lebih nyaman menyendiri dibanding di dalam keramaian. Bagi introver berada dikeramaian dan berinteraksi dengan banyak orang menguras energinya. Me time atau menyendiri adalah cara introver me-recharge energi. Jadi, menyendiri adalah kebutuhan bagi introver. Semakin lama berada dikeramaian mereka akan semakin lelah dan tak bersemangat.

Berkebalikan dengan ekstrover.

Ekstrover adalah pribadi yang menyukai keramaian. Keramaian dan sosialisasi adalah tempat me-recharge energinya. Semakin banyak mereka bertemu orang, semangat dan energi mereka bertambah.

Sejalan dengan penjelasan dari Dedi Susanto (psikolog) di chanel youtube Kuliah Psikologi (link ada di bawah ya).

Sebagai kepribadian yang tak umum, banyak yang salah menilai introver (saya introver, ada beberapa yang saya rasakan juga).

1. Introver adalah orang yang antisosial

Sama sekali bukan. Hanya saja introver lebih nyaman pada lingkaran kecil. Lebih suka dan nyaman mengobrol atau berdiskusi dengan 3-4 orang saja. Pertemanan mereka juga tak banyak, tetapi teman-teman tersebut sangat berarti bagi mereka. Kualitas di atas kuantitas.

Bukan karena sombong, tetapi tentang kenyamanan. Tentang nyaman atau tidaknya dia bersama orang tersebut. Jika sudah nyaman, introver bisa sangat banyak bicara.

Introver juga perlu observasi tentang orang atau lingkungan baru yang dia temui. Dia perlu melihat bagaimana orang atau lingkungan tersebut melihatnya.

Introver juga lebih suka mengirim pesan secara pribadi dibanding di grup, dan lebih suka menulis pesan dibanding telpon. Mengapa? Menurut saya pribadi hal tersebut terjadi karena

  • Introver biasanya irit kata dibanding ekstrover. Berbicara setelah berpikir dahulu. Dengan demikian introver bisa menggunakan waktu untuk berpikir sebelum mengirim pesan dibanding jika telpon.
  • Introver berusaha untuk tak merusak suasana. Karena introver tak suka basa-basi atau bergurau terlalu banyak. Irit kata. Intover takut membuat suasana menjadi “krik-krik”.

2. Introver adalah penyakit (gangguan jiwa)

Bukan. Introver adalah kepribadian. Sama-sama diciptakan oleh Allah. Dan sama-sama bermanfaat di dalam masyarakat.

Banyak tokoh-tokoh dunia memiliki kepribadian introver. Sebut saja Thomas Alfa Edison, Einstain, Mozart, Steve Job, Mahadma Gandi, dll. Mereka introver tetapi mereka sukses dibidangnya masing-masing bahkan berpengaruh untuk dunia. Mereka adalah peneliti, seniman, pengusaha, pemimpin, dll.

Jadi tak mungkin sebuah penyakit bukan?

Introver adalah kepribadian yang juga harus diterima.

3. Introver harus berubah menjadi ekstrover.

Tak asing dengar kata-kata seperti ini?

“Nak, ayo dong main sama temen-temennya.”

“Ayo dong ngobrol sama temennya, jangan diam aja.”

“Itu lho, mbok kayak sodaramu yang pinter ngomong, pinter ngobrol, pinter bersosialisai, jangan diem aja.”

Dll.

Sering ya kita dengar seperti itu. Seolah-olah pendiam itu tak baik.

Bisa jadi anak-anak yang diminta untuk main, ngobrol, atau bersosialisasi tadi adalah anak introver. Mereka bukannya tak mau tapi tak nyaman. Atau sedang observasi. Bagaimana jika dipaksa? Bisa jadi mereka tambah tak suka bersosialisasi.

Pernah terjadi pada anak saya, Akhtar.

Akhtar sepertinya anak introver. Saat diajak ketempat baru atau bertemu orang baru, Akhtar kecil terlihat cuek. Ditanya tak menjawab dan diajak salaman pun tak mau.

Lambat laun saya sadari bahwa dia mengamati orang-orang tersebut. Akhtar kecil memperhatikan dari senyum atau tidaknya orang kepadanya. Orang senyum dia anggap baik, yang tak senyum dia anggap tak baik. Mengindikasikan bahwa dia sedang mengamati keadaan. Ciri khas orang introver.

Selain itu, bagi saya ini baik karena ada benteng pertahanan bagi dirinya.

Di waktu yang lainpun, dia bertanya mengapa harus bersalaman. Dia tak mau bersalaman karena dia belum tahu untuk apa.

Itulah mengapa saya tak memaksakan Akhtar selalu bersalaman. Meminta, mengajari, dan memberi contoh wajib. Tetapi memaksa jangan.

Memberi mereka waktu untuk mencerna keadaan. Dengan begitu mereka tetap percaya diri dengan diri mereka sendiri. Mereka tetap merasa diterima walaupun mereka introver dan tidak berusaha untuk menjadi orang lain.

===================================

Jadi, intover sebenarnya normal kan. Hanya saja introver berada ditengah-tengah budaya ektrover. Sehingga terlihat seperti orang aneh. Orang tak normal.

Ada paragraf menarik yang saya baca di novel Introver karya M.F. Hazim yang bisa menggambarkan keadaan intover di tengah ekstrover.

Sesuatu dianggap normal jika sesuatu itu mayoritas. Seperti halnya mayoritas burung yang ada di bumi ini memiliki dua sayap di kiri dan kanannya, maka hal.itu akan dianggap normal, sedangkan burung yang bersayap empat akan dianggap tidak normal, karema tidak sama dengan sebagian besar burung lainnya. Tapi pada kondisi di mana semisal burung dengan empat sayap jumlahnya lebih banyak dari burung yang bersayap dua, makan yang akan dianggap normal adalah burung yang bersayap empat, dan yang dianggap tak normal adalah burung yang hanya memiliki dua sayap.

Novel ini bercerita tentang kehidupan dari kacamata introver. Cukup bagus. Bisa jadi bahan bacaan agar lebih mengenal introver.

 

 

Sumber:

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *