Perjalanan Mengenal dan Menghadapi Anxiety Disorder

30 September 2021

Ada yang salah dengan diriku. itulah yang sering aku pikirkan. Aku merasa bukan lagi diriku yang dulu. Aku menjadi orang yang sangat sensitif dan tak lagi bisa mengendalikan emosi. Apalagi saat menghadapi anak-anak.

Ketidakstabilan emosi yang sangat berpengaruh pada anak-anak inilah yang selalu menggangguku.

Kenapa aku tak lagi bisa seperti dulu?

Kenapa sekarang aku tak tahan mendengar tangisan anak-anak? Padahal dulu aku bisa menahan untuk tidak reaktif saat anak menangis, melakukan kesalahan, atau menjengkelkan.

Innerchild, pengendalian pikiran, macam emosi dan masih banyak lagi ilmu tentang emosi yang aku pelajari dan aku coba terapkan. Namun hasilnya nihil. Aku belum juga bisa berubah. Aku merasa ada hal yang perlu diperbaiki dariku.

Aku perlu ke psikolog agar aku tahu apa yang terjadi padaku sehingga aku bisa mengelola emosiku dan bisa lebih sabar menghadapi anak. Begitu pikirku. Namun, tahun demi tahun berlalu, aku belum ada kesempatan untuk bertemu dan berkonsultasi dengan psikolog.

Sampai akhirnya, beberapa bulan lalu, aku merasa diriku semakin aneh.

Emosiku makin tak terkendali terutama pada anak-anak dan suami. Aku juga merasa fisikku semakin lemah. Aku bisa tiba-tiba merasa sangat lemas dan gliyeng. Rasa-rasa ingin pingsan.

Beberapa kali aku merasa aku sedang menghadapi kematian. Jantung berdetak tak karuan, napas pendek, tangan dan kaki dingin, badan terasa kebas, bahkan tangan dan kaki terasa tak lagi menyatu dengan raga. Aku merasa sangat panik. Beberapa kali aku minta ke suami untuk mengantarku ke UGD. Aku merasa aku membutuhkan bantuan dokter sesegera mungkin untuk menyelamatkan hidupku.

Aku pun merasa hari-hariku berubah. Hal-hal yang biasa aku lakukan seperti senam atau bersepeda tak lagi berani aku lakukan. Aku takut jantungku tak kuat dan berakhir serangan jantung.

Ya. Pikiran-pikiran tidak rasional menguasai otakku.

Akhirnya, setelah beberapa bulan menghadapi pikiran dan semua sensasi tak mengenakkan itu, aku bertemu dengan psikolog.

Dipertemuan pertama, aku belum bisa bercerita detil tentang apa yang aku rasakan. Mungkin karena aku juga tak tahu harus mulai dari mana. Baru dipertemuan kedua aku bisa menjelaskan maksud dan tujuanku dengan lebih spesifik.

Aku bisa bercerita apa yang aku pikirkan dan rasakan seperti apa yang aku ceritakan di awal tulisan ini. Lalu, aku diberi sebuah tes. Aku lupa apa nama tesnya. Yang aku ingat aku diminta untuk mengisi sebuah kuesioner. Dimana hasil tes tersebut menunjukkan angka anxiety ku tinggi.

Aku mulai diberi penjelasan tentang kondisi ku. Dimana anxiety disorder membuat cara berpikir dan apa yang aku percaya berbeda dengan orang yang tidak mengalami gangguan ini.

Cara berpikirku ada yang patah sehingga perlu diluruskan kembali dengan terapi. Ibarat tulang kaki yang patah, perlu diobati agar kembali lurus dan bisa digunakan. Begitu penjelasannya.

Sejak saat itu aku mulai diberi terapi dan latihan-latihan. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) adalah terapi yang aku jalankan. Latihan seperti latihan napas, sikap positif, body scanning, dan latihan-latihan lain pun diberikan padaku.

Beberapa minggu berselang, psikologku memberi aku tes lagi dimana dari tes tersebut menguatkan bahwa aku menderita anxiety disorder lebih khususnya GAD (General Anxiety Disorder) atau gangguan kecemasan umum. Yaitu gangguan kecemasan dimana penderita akan merasa cemas dengan spektrum kecemasan yang luas dan umum tidak spesifik hanya pada 1 kecemasan.

Yups, itulah yang aku rasakan. Aku merasa selalu cemas bahkan untuk hal-hal sepele misalnya memikirkan nanti siang makan apa. Namun entah bagaimana, rasa cemasku tak tertangkap oleh orang-orang di sekitarku. Bagi suami dan anak-anakku, rasa cemasku dilihat sebagai kemarahan.

Orang-orang yang mengenalku sepertinya juga tidak menangkap adanya kecemasan didiriku. Kebanyakan mereka menilaiku sebagai orang yang PD, tenang dan bijak. Sungguh sesuatu yang amat berbeda dari apa yang aku rasakan.

Saat ini, aku masih rutin menjalankan sesi konsultasi bersama psikolog. Anxiety ku mulai membaik terlihat dari gejala fisik yang aku rasakan mulai menurun. Walaupun beberapa minggu ini aku mengalami gejala gangguan metal yang lain. Seperti yang aku ceritakan kemarin di sini  – > Tiduran Tak Selalu Berarti Malas.

Yah, ternyata perjalananku untuk mencapai emosi stabil ternyata bukan sesuatu yang linier, tetapi sangat fluktuatif bahkan seperti roller coaster. Aku sedang berusaha menerimanya. Menerima bahwa perjalanan untuk sembuh dan merawat kesehatan mentalku adalah perjalanan panjang yang bisa jadi tidak selalu mulus.

Namun, aku berharap, aku bisa melewatinya. Aku pun belajar untuk yakin, banyak hal yang bisa menguatkankan. Termasuk menulis disini. Sungguh bukan hal yang mudah bagiku menulis cerita ini.

Hanya saja aku berharap dengan begini, aku makin bisa mengakui dan menerima kondisiku. Sekaligus sebagai catatan perjalanan healing-ku. Sewaktu-waktu aku kembali merasakan goncangan, aku bisa membaca tulisan ini. Bahwa dulu aku pernah mengalaminya dan aku bisa berhasil melewatinya.

Selain itu,

Aku ingin banyak orang yang tahu bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Hanya karena kesehatan mental tak terlihat dengan jelas pada fisik seseorang, lalu bisa dengan mudah diabaikan.

Jika kamu atau orang didekatmu terlihat ada yang berbeda dan menunjukkan tanda-tanda kesehatan mental yang terganggu, jangan ragu untuk meminta bantuan profesional. Datanglah ke psikolog atau psikiater.

Dan juga, please be kind! Kita tidak pernah tahu apa yang sedang dialami orang lain.

Bisa jadi orang disebelahmu yang sedang tertawa lebar sedang merasakan kesedihan yang mendalam atau sedang mengalami depresi yang tidak diperlihatkan. Atau orang yang saat ini sedang kamu ajak bicara, yang terlihat tenang dan hangat adalah orang yang sedang memendam kecemasan mendalam.

Kita tidak pernah tahu apa yang sedang dialami orang lain. Yuk, kita, aku dan kamu yang sedang membaca ini, belajar dan berlatih untuk menjadi orang yang tidak mudah menghakimi orang lain.

Anxiety itu nyata, depresi itu nyata. Kesehatan mental juga sesuatu yang nyata dan penting. Sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

 

Kudus, 29 September 2021

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *