Peran Orang Tua dalam Kehidupan Sosial Anak di Sekolah

2 Mei 2019

Lagi rame banget yang bahas tentang kehidupan sosial (social life) yang diangkat oleh IG @jouska_id.

Social life seperti apa yang banyak diperbincangkan?

Tentang kehidupan anak-anak yang disekolahkan di international school. Seperti:

  • Anak yang di-bully karena naik pesawat ekonomi. Karena teman-temannya naik pesawat bisnis;
  • Anak yang di-bully karena diantar jemput pakai Avanza. Karena teman-temannya antar jemput pakai Alphard;
  • Anak yang pulang-pulang nangis minta ke Disneyland karena dia ingin masuk geng yang syaratnya adalah sudah pernah ke Disneyland. Padahal usianya masih 5 tahun;
  • Dll.

Melongo? Kaget?

Sama!

Serasa nonton sinetron ya? Tapi itu konkret, nyata adanya. Disekitar kita.

Jadi apa sih masalahnya?

Anak-anak tetaplah anak-anak. Apa yang mereka lakukan adalah buah dari orang tua dan lingkungannya. Jadi menurut @jouska_id itu seharusnya menjadi peranan orang tua dan pihak sekolah.

Bisa jadi orang tua kurang bisa menyiapkan mental anak untuk memasuki lingkungan sosial seperti itu. Juga peraturan sekolah yang kurang memperhatikan kesenjangan. Adakan, sekolah mahal yang mensyaratkan siswanya untuk tidak membawa atau menggunakan barang-barang berharga?

Jadi ingat kampusku. Aku kuliah di kampus swasta. Kebayang ya kampus swata tuh kayak apa. Buanyak teman-teman kampusku yang datang dari keluarga berada. Berbeda dariku, anak PNS asal daerah yang mencoba peruntungan. Tapiii, kampus mengharuskan mahasiswa untuk memakai seragam. Menurutku, cukup membuat kesenjangan berkurang.

Kembali lagi ke topik ya

Setuju sih dengan pendapat @jouska_id. Menurutku, peranan orang tua sangat penting dalam mendidik mental anak. Selama memiliki orang tua yang selalu membangun harga diri (self esteem) dan kepercayaan diri anak, tentu anak akan baik-baik saja dimanapun mereka berada.

Bagaimana caranya?

Kalau menurutku membangun harga diri (self esteem) dan kepercayaan diri itu dengan:

  • Menerima anak apa adanya. Mengasah kelebihannya dan menerima kekurangannya. Meninggikan gunung meratakan lembah begitu kata ibu Septi Peni  (Founder Ibu Profesional). Bukan memfokuskan diri pada kekurangan anak saja. Misal anak memiliki bakat dibidang bahasa, kita dukung dan fasilitasi kelebihannya tersebut. Walaupun mungkin matematikanya tak bagus.
  • Mengurangi membentak, menyalahkan, merendahkan, memaksa dan bahasa negatif yang lain. Mengapa? Di keluarga yang bernuansa positif, anak akan merasa disayangi dan dicintai. Jika anak merasa disayangi dan dicintai maka harga diri dan kepercayaan dirinya tentu akan tinggi. Dengan begitu, bagaimanapun lingkungannya, mereka tak terpengaruh.
  • Lebih banyak mendengar keluh kesah anak.

Tantangan yang cukup berat ya? Pun bagiku. Semoga Allah selalu memudahkan. Aamiin.

Nah, hal lain yang perlu diperhatikan tentang social life adalah tentang memilih sekolah. Menurut @jouska_id tak masalah memilih sekolah mahal untuk anak asaaal:

  1. Sesuai dengan kemampuan (masih bisa kah invest untuk pendidikan sampai dengan kuliahnya? Ngga bikin ngutang kesana kemarikan?)
  2. Ajarkan anak untuk lebih pede dengan yang apa yang dia punya. Let them know that they are not defined by the things they wear or they own. Characters, attitude and brain speak louder than those material things.

Tambahan dariku,

Apakah sekolah tersebut memiliki visi, misi dan value yang sama dengan keluarga (paling tidak mendekati). Menurutku ini yang paling penting. Bagiku, pendidikan utama berada di keluarga. Sedangkan sekolah adalah mitra. Tujuan hidup anak, akan menjadi apakah kelak, ditumbuhkan di rumah. Sedangkan sekolah adalah bantuan untuk mencapainya. Itulah mengapa perlu mencari kesamaan value antara keluarga dan sekolah.

Jadi misal ada sekolah yang mungkin saja murah atau sangat murah tapi sesuai dengan value keluarga, mengapa tidak?

Atau sebaliknya, jika memang sekolah mahal yang memenuhi value keluarga tak masalah memasukkan anak kesana. Asaaal, seperti 2 syarat @jouska_id tadi. Jangan memaksakan keuangan dan orang tua membangun imunitas anak. Membuat mereka bahagia bukan karena apa yang mereka pakai tetapi apa yang harus mereka lakukan agar mereka bahagia dimanapun mereka berada.

Nah salah satu contoh yang aku dan suami lakukan untuk menanamkan ini aku ceritain disini: Mencari Harta Karun di Pasar Tradisional.

Bagaimana dengan sekolah anak-anakku?

Sampai saat ini, anak-anak belum ada yang sekolah.

Karena,

Anakku masih 5 tahun. Kalaupun sekolah, rencana masuk TK di usia 6 tahun. Masuk SD di usia 7 tahun. Sesuai anjuran para ahli dan Undang-Undang. Usia dimana imunitasnya sudah cukup mumpuni untuk menghadapi dunia sosial yang lebih luas yaitu sekolah.

(Oiya, Sebenarnya Akhtar, anak pertamaku, pernah sekolah. Cerita lengkapnya mengapa dulu sekolah sekarang tidak boleh dibaca di sini ya: Hari ini Akhtar Resmi tak Sekolah)

Sayangnya, sampai saat ini (1 tahun menuju Akhtar sekolah) aku dan suami belum memiliki pandangan tentang sekolah yang sesuai dengan value keluarga kami. Jadilah kami mendalami Home Education. Homeschooling dengan pendidikan berbasis fitrah. Sehingga jikalau nanti tak mendapat sekolah yang sesuai, kami bisa homeschooling saja.

Nah, Home education inilah yang saat ini paling cocok untuk kami. Pendidikan yang menumbuhkan fitrah-fitrah anak. Seperti fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah seksualitas, dll sesuai tahapan usianya. Inside out begitu istilahnya. Mengeluarkan kemampuan-kemampuan anak yang sebenarnya sudah diberikan oleh Allah di dalam diri anak.

Disini anak ditumbuhkan kesadarannya dalam melakukan sesuatu. Misalnya, saat kita ingin anak sholat. Di bawah 7 tahun anak-anak dikenalkan kepada tuhannya, Allah SWT, dengan imajinasi yang positif. Bahwa Allah Maha Baik sudah memberikan kita mata, mulut, jantung, dll. Bahwa Allah sangat hebat sudah menciptakan laut, pohon, bintang, dll. Jadi saat mereka mulai diminta untuk sholat di usia 7 tahun, mereka melakukannya dengan suka rela.

Konsep itulah yang ingin kami bangun di keluarga kami. Konsep kesadaran sebagai dasar pendidikan. Sedangkan pembiasaan dan pendisiplinan dilakukan setelah 7 tahun. Saat mereka sudah cinta pada apa yang akan mereka lakukan.

Sedangkan kami belum menemukan sekolah dengan konsep seperti itu di daerah kami. Apalagi untuk usia di bawah 7 tahun.

Nah, setelah 7 tahun nanti perlu didiskusikan kembali apakah anak-anak sekolah atau sekolah di sekolah dengan mamanya.

Semoga Allah beri petunjuk terbaik untuk kami. Aamiin.

Oiya,

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

2 Komentar

  • Risna 2 Mei 2019pada10:29

    Wah, sama dengan kami. Anak pertama pernah sekolah dan akhirnya jadi Homeschool. Alasannya lebih karena dia sering sakit dan gak fokus sih di Sekolah. Saya masih tetap menawarkan kalau dia mau ke sekolah lagi supaya banyak teman, tapi dia gak mau. Untungnya anak pertama saya social skill nya gak diragukan lagi, dia cepat akrab dengan teman yang baru ketemu di playground. Sekarang anak ke-2 blum usia sekolah, jadi masih santai hehehe.

    • tutikandarini 6 Mei 2019pada12:04

      Waa, sepertinya seru ya mbak, anaknya homeschool. Pokoknya selama anaknya enjoy ya mbak. 🤗

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *