Mengubah Masalah Menjadi Tantangan

5 Juli 2021

Bismillahirohmaanirrokhiim. . .

Udah lumayan lama gak nulis di blog.

Sedang bergelut dengan amanah dan bergelut dengan mental health.

Tentang mental health ini, pingin banget cerita dan berbagi disini tapi tunggu dulu deh, tunggu siap dulu. 🤭

Kalau sekaranf siapnya apa nih?

Siapnya cerita tentang Bunda Saliha. Jenjang perkuliahan terakhir di Institut Ibu Profesional. Lanjutan dari kelas Bunda Sayang, Bunda Cekatan dan Bunda Produktif.

Bunda Cekatan dan Bunda Produktif ada di blog ini kalau Man-Teman mau baca ceritanya. Kalau Bunda Sayang gak disini karena dulu belum punya blog. 😁

Sedikit flash back di perkuliahan sebelum-sebelumnya yaaa. . .

Institut Ibu Profesional ini ada 4 tingkatan. Tingkatan pertama itu matrikulasi (semacam orientasi) lalu ada Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan terakhir Bunda Saliha.

Jika Bunda Sayang, kita diberikan ilmu dan pengetahuan bagaimana kita mendidik dan membersamai anak, di Bunda Cekatan mahasiswinya dibekali ilmu untuk mengatur keluarga. Sedangkan di Bunda Produktif kami diarahkan untuk mengenali jati diri dengan menggali passion dan melakukan passion tersebut dengan bahagia.

Di Bunda Saliha, mahasiswinya dibekali lagi ilmu yang berbeda. Ilmu untuk berempati pada keadaan sekitar dan menjadi solusi untuk masalah. Menjadi agen perubahan begitu mottonya.

Ya, kami diberi lingkungan untuk menjadi changemaker. Every mother are chagemaker begitu salah satu quote-nya

Kami, ibu-ibu, berdaster dan bau bawang ini (eh, saya aja kali ya 😆) diberi lingkungan untuk ikut menjadi agen perubahan.

Di awal-awal perkuliahan, masalah adalah hal utama yang perlu dicari tahu. Karena dari masalah itulah, kami mencari solusi.

Masalahpun dilist. Dan yes, masalah hidup saya ternyata banyak sekali. Dari masalah pribadi, masalah keluarga sampai masalah lingkungan sekitar.

Salah satu masalah pribadi saya pilih untuk dicari akar masalahnya. Yang ternyata juga adalah masalah keluarga dan masalah lingkungan sekitar.

Dari pencarian terhadap masalah pribadi ini, saya menemukan beberapa hal yang akhirnya membuat saya memantapkan diri untuk mengambil masalah ini. Tentu saja dengan persetujuan suami yang terlebih dahulu jadi patner diskusi.

Data-data tak terduga saya dapati saat mencari data untuk mengisi hasil yang tampak di masyarakat terhadap kegalauan dan masalah ini.

Semoga, platform yang rencana akan saya buat sebagai progres dan hasil di perkuliahan ini bisa menyelesaikan masalah pribadi saya. Lebih baik lagi jika ada teman-teman lain yang merasakan hal yang sama bisa terbantu. Dan bisa menghapus stigma yang berkembang di masyarakat terkait masalah yang saya hadapi ini. Aamiin.

Identifikasi Masalah.
Mengubah Masalah Menjadi Tantangan

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *