Mengapresiasi Diri Sendiri

26 Maret 2019

Hari ini saya ingin mengapresiasi diri sendiri. Pasalnya, saya bisa mengendarai sepeda motor bertiga bersama anak. Setelah sekian lama akhirnyaaa, saya berani dan sukses. Sukses dalam artian bisa sampai di rumah kembali dalam keadaan selamat. Hehehe.

Ah iya, sebenarnya saya ini termasuk pengendara yang pasif. Kemana-mana dianter. Entah sama suami, sopir ojek online, sopir bis, atau sopir angkot.

Pernah waktu SMP saya belajar naik motor. Beberapa kali sampai lancar. Saat dirasa bisa sendiri, saya diminta mengendari motor di depan oleh pengajar saya. Dia di belakang. Saya mau-mau saja, tetapi saat itu saya ingat saya agak ragu. Keraguan ditambah jalan sempit berkelok-kelok membuat saya limbung. Motor pun tak dikendalikan. Kami masuk ke saluran air (yang untungnya tak ada airnya). Alhamdulillah kami tak apa, hanya lecet sedikit dan beberapa memar. Beberapa hari kemudian, baru saya ketahui bahwa kemarin kepala kami hampir kena batu besar. Artinya, meleset sedikit saja, kami sudah terkena batu itu. Entah jadinya seperti apa.

Kejadian beserta cerita tentang batu besar itu membuat saya semacam memiliki trauma. Membuat saya tak lagi mau belajar motor. Bahkan beberapa tahun kemudian saat saya belajar motor lagi, saya berkeringat dingin saat harus mengendarai jalan menurun. Terdiam terpaku. Sampai seseorang yang tak saya kenal membantu saya menuruni jalan tersebut ke tempat teman yang melatih. Kembali, saya berhenti berlatih.

Saat kuliah, ada seorang teman yang menawari saya belajar motor. Hal sama terjadi. Keraguan membuat saya terjatuh bersama teman tersebut. Hampir masuk ke dalam saluran air yang dalam. Saya berhenti lagi belajar motor.

Setelah menikah, penyesalanpun datang. Mengapa saat muda, saya tak kekeuh belajar naik motor. Karena ternyata banyak hal yang harus saya lewatkan karena saya tak bisa berkendara. Apa-apa harus minta antar suami. Kalaupun harus berkendara umum, harus jalan terlebih dahulu. Dengan anak. Yang artinya lebih berat dibanding jalan sendiri.

Apalagi akhir-akhir ini, saya merasa sangat butuh bisa berkendara sendiri. Keinginan inilah yang mendorong saya untuk berlatih kembali. Dan lebih PD. Hasilnya, cara saya berkendara pun terasa lebih enak dan ringan. Tak seperti dulu. Beberapa kali saya mencoba mengendarai motor sendiri ke beberapa tempat. Yang dekat-dekat dulu. Beberapa ratus meter dari rumah. Hari ini saya bisa ke tempat yang jaraknya lebih dari 1 KM. Hehehe

Memang belum seberapa jauh. Tetapi bagi saya ini pencapaian. Melewati jalan yang lebih ramai dari biasanya juga bersama dua anak. Mungkin yang lain bisa lebih dari saya. Kali ini saya hanya ingin fokus pada diri saya saja. Membandingkan diri saya yang sekarang dengan yang dulu kaitannya dengan mengendarai motor. Dan bagi saya ini lebih baik dari sebelumnya.

Nah, beberapa kali sayapun sempat berpikir. Mengapa dulu saya berkali-kali belajar motor tak bisa-bisa. Padahal saat itu usia saya masih muda (sekarang juga sih, tapi tak semuda dulu. Hehehe) Sedangkan sekarang, belajar mengendarai motor terasa lebih mudah dan lebih cepat.

Nah, analisis saya adalah tentang kebutuhan. Butuh dan tidak butuh.

Dulu, saya merasa belum butuh mengendarai motor. Karena kemana-mana biasa diantar bapak atau ibu. Atau tinggal ke depan rumah. Ada bis atau kendaraan umum lain yang siap mengantar saya kemana saja. Bahkan saat saya kuliah di Bandung, saat waktunya mudik, saya tak perlu khawatir sampai jam berapapun karena turun dari bis, untuk sampai rumah saya tinggal menyeberang. Apalagi belajar motor pun saya tak akan dibelikan sepeda motor oleh orang tua. Jadi, tak ada alasan untuk belajar naik motor bukan?

Nah, kebutuhan untuk bisa berkendara muncul saat sudah menikah dan tinggal di tempat yang tak dijangkau kendaraan umum. Apalagi saat itu, kami memiliki 2 kendaraan roda 2. Saya mulai belajar sedikit demi sedikit untuk keperluan berkendara di sekitaran komplek. Mulai lancar dan bisa berkeliling sendiri. Berhenti saat mulai hamil anak kedua sampai usianya 2 tahun.

Setelah pindah ke Kudus ini, kebutuhan saya berkendara semakin meningkat. Sejalan dengan keinginan saya untuk bisa kemana-mana sendiri demi keperluan aktualisasi diri. Apalagi nanti jika anak-anak sekolah ataupun jika sudah memutuskan homeschooling. Banyak hal yang perlu saya lakukan tanpa perlu menunggu suami.

Pelan-pelan, untuk mencapai kesitu (mobilitas bersama anak), saya belajar dari sekarang. Doakan berkendara saya semakin lancar yaaa.

🤗🤗🤗

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *