Mencari Harta Karun di Pasar Tradisional

9 April 2019

“Hari ini kita ke pasar ya.” Ajak saya pada anak-anak.

“Ga mauuu, ga seronok, ga seronok.” Jawab Akhtar menirukan gaya Upin Ipin.

Ya, seminggu sekali keluarga kami berbelanja sayur dan protein ke pasar tradisional. Tidak seperti minggu-minggu sebelumnya, Akhtar menolak ikut. Alasannya karena tak seronok. Tak Asyik. Sepertinya dia mulai bosan. Dia merasa sudah tak ada hal menyenangkan yang dia dapat. Tak ada yang dia suka.

“Eh, kita cari harta karun yuk di pasar?” Tanya saya.

“Harta karunnya apa?” Tanya Akhtar mulai antusias.

“Rahasia dong, nanti Akhtar tebak sendiri yaa.” Jawab saya. Padahal saya waktu menjawab ini juga belum ada ide. Hehehe.

“Gimana kalau kita bikin peta?” Tambah saya.

Saya dan papa Akhtar pun mendiskusikan secara kilat mengenai harta karun dan petanya. Kemudian papa Akhtar membuat peta dan membuat gambar harta karun yang harus dicari Akhtar.

Gambar peta

Gambar harta karun

Harta karun yang harus dicari Akhtar adalah beberapa bahan yang akan kami beli yaitu tempe, bawang bombay dan tahu.

Kamipun berangkat. Akhtar antusias dan senang sekali. Sudah lupa jika beberapa waktu lalu dia menolak ikut ke pasar. Hehehe.

Sampai di pasar, Akhtar memimpin di depan. Saya, papa Akhtar, dan Arfa (digendong papa) mengikuti di belakang.

Tempe adalah harta karun pertama. Penjualnya ada di dekat pintu masuk lantai dua. Sempat terlewat, kami memberi sedikit keterangan pada Akhtar. Juga membantu membaca peta. Saat dia menemukan harta karun pertama, anak ini berjingkrak dan berbinar. Senang sekali. Tak sabar mencari harta karun kedua. Bahkan belum juga saya membayar tempenya, dia sudah berjalan mendahului.

Pencarian berlanjut. Akhtar menemukan harta karun keduanya. Bawang bombay. Dia segera mencari bawang bombay dengan sedikit daun di atasnya. Karena menurutnya, bawang bombay seperti itulah yang bisa ditanam. Ya, Akhtar membeli bawang bombay untuk di tanam. Karena akhir-akhir ini Akhtar senang sekali menanam. Sembari saya membeli sayuran yang lain seperti wortel dan tomat.

Masih antusias, Akhtar mencari harta karun ketiga yaitu tahu. Dia berhasil menemukan tahu masih dengan sedikit bantuan kami. Semua harta karun telah di dapat. Misipun selesai.

Akhtar melanjutkan memimpin. Mencari dimana kami memarkir motor. Kami mengikutinya kemanapun dia berjalan. Berputar-putar di pasar sampai entah berapa lama. Bahkan sampai di tempat yang belum pernah kami kunjungi ataupun lewati. Positifnya sih kami jadi tahu beberapa tempat yang sebelumnya kami tak tahu seperti tempat penjual kelapa, tempat penggilingan, dll. Negatifnya, kami harus ekstra sabar mengikuti Akhtar dengam kondisi saya membawa belanjaan dan papa Akhtar menggendong Arfa. Kami sekuat tenaga berusaha untuk tidak menginterupsi.

“Ini dimana sih.” Kata Akhtar beberapa kali saat mulai frustasi mencari jalan.

“Ayo Akhtar, mama percaya, Akhtar bisa nemuin jalan keluar.” Begitu saya menyemangatinya.

Daaaan setelah beberapa waktu berputar-putar, kami pun sampai ke tempat parkir motor. Kami, terutama Akhtar pulang dengan perasaan puas dan bangga.

===================================

Anak-anak selalu berpikir berdasarkan suka atau tidak suka. Menyenangkan atau tidak menyenangkan. Sedangkan kita, orang dewasa, sering berpikir tentang butuh atau tidak butuh. Ada gab pemikiran antara anak dan orang tua. Agar tak lagi ada gab, perlu ada siasat dari orang tua agar apa yang kita anggap butuh bisa disukai anak-anak.

Mencari harta karun di pasar adalah salah satu siasat agar kedua pemikiran dapat disatukan. Kebutuhan kami untuk ke pasar dan membuat anak-anak nyaman berbelanja di pasar terpenuhi, anak-anak pun merasakan kesenangan.

Juga, kami ingin anak-anak berpikir bahwa pasar tradisional pun sangat menyenangkan. Tak kalah dengan swayalan ataupun mal. Asal kita mengemasnya dengan pikiran positif.

Harapan lain adalah anak-anak melakukan sesuatu yang kami anggap butuh dengan suka rela. Sehingga relasi kami pun lebih kuat dibanding pendekatan lain seperti melarang ataupun memerintah.

Apakah kami tak penah melarang atau memerintah anak?

Seriiiing. Kami masih sering melarang ataupun memerintah anak. Juga marah-marah. Ke depannya, kami ingin lebih banyak menggunakan pendekatan ini untuk mengarahkan anak-anak dalam melakukan sesuatu dibanding dengan perintah dan larangan. Tentu ada konsekuensi yang harus kami tanggung. Dibutuhkan waktu yang lebih lama, kreativitas tinggi, dan kesabaran yang lebih ketika kami menggunakan pendekatan ini.

Semoga dimampukan. Aamiin

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *