Ketika Bullying Menjadi Jalan Terakhir

11 April 2019

 

Beberapa hari ini kata perundungan atau bullying sedang wira-wiri di mata dan telinga kita. Jadi apa sih perundungan itu?

Perundungan berasal dari kata rundung > merundung.

Menurut KBBI, Rundung > Merundung berarti :

  1. v mengganggu; mengusik terus-menerus; menyusahkan: anak itu ~ ayahnya, meminta dibelikan sepeda baru
  2. v menimpa (tentang kecelakaan, bencana, kesusahan, dan sebagainya): ia tabah atas kemalangan yang telah ~nya
  3. v menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis, dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, atau fisik berulang kali dan dari waktu ke waktu, seperti memanggil nama seseorang dengan julukan yang tidak disukai, memukul, mendorong, menyebarkan rumor, mengancam, atau merongrong

Ya, jagad dunia maya dan nyata sedang gempar dengan kasus perundungan atau bullying yang menimpa Audry. Anak SMP berusia 14 tahun. Tak hanya secara verbal, perundungan juga dilakukan secara fisik. Tidak hanya oleh 1 tetapi beberapa pelaku dengan usia yang lebih dibanding korban. Apa saja yang dilakukan, saya tak bisa menuliskannya disini karena saya tak sanggup. Sungguh miris.

Yang jelas, kini Audry harus dirawat di rumah sakit. Dia mengalami tak hanya luka fisik tetapi juga luka batin. Yang bisa jadi, dia bawa seumur hidup. Ya, seumur hidup.

Tak habis pikir dengan perbuatan pelaku. Bagaimana bisa mereka beramai-ramai melakukan perundungan dan seakan tak merasa bersalah. Bahkan sempat mengunggah IG story saat diperiksa di kantor polisi.

Hmmm,

Rasa-rasanya kasus perundungan seperti ini sudah sering kali kita dengar. Bahkan sampai harus ada yang kehilangan nyawa (ingat kasus Yuyun yang diperkosa beramai-ramai dan dibunuh?).

Mengapa? Mengapa bisa terjadi?

Ada apa dengan anak-anak remaja kita? Mengapa hal yang menyakitkan seperti itu harus terjadi? Tidakkah mereka memiliki empati?

Bisa jadi kejadian seperti ini ibarat bom yang bisa saja terjadi pada siapa saja dan kapan saja, dan dimana saja. Tinggal menunggu ada pemantik yang menghidupkan bom. Bahkan pemantiknya bisa jadi hal sepele. Seperti kasus Audry ini, dimana pemantiknya hanyalah masalah asmara. Jika sudah meledak, tak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain.

Siapa? Siapa yang menciptakan bom sedasyat itu? Jangan-jangan orang tua lah pembuat bom tersebut? Pencetak perundung-perundung tersebut?

Mari merenung sejenak,

Orang tua,

Sudahkah kita bertaubat, berdoa meminta perlindungan Allah?

Sudahkah kita memeluk anak-anak?

Sudahkah kita memberikan senyum terbaik untuk mereka?

Sudahkah mendengarkan mereka?

Mendengarkan suara hati mereka? Bukan mendengarkan apa yang ingin kita dengar saja?

Sudahkah kita minta maaf pada mereka?

Sudahkah kita meluangkan waktu untuk mereka?

Yaaa, anak-anak membutuhkan itu semua untuk memenuhi tanki hati mereka. Dengan pelukan, senyuman, didengar, kita hadir sepenuh hati, hati mereka penuh. Tak kosong sehingga tak perlu lagi merundung untuk menghilangkan kekosongan hati itu.

Sudahkah kita mengenalkan Allah? Mengenalkan betapa baik dan hebatnya Allah? Mengenalkan Nabi Muhammad SAW? Sebelum mengenalkan ibadah?

Sehingga fitrah keimanan mereka tumbuh subur. Akhirnya, ada hati dan kesadaran ketika kelak mereka beribadah. Sehingga mereka tahu bahwa menyakiti tak dibenarkan oleh agama.

Sudahkah kita merawat fitrah belajarnya? Ataukah kita hanya menuntut mereka pintar tanpa menumbuhkan kecintaan belajar? Sehingga hati yang kosong semakin kering? Sehingga mereka semakin haus akan eksistensi semu.

Anak-anak tak butuh mainan bagus, liburan keluar negeri, atau makanan enak. Mereka membutuhkan orang tuanya mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang.

Orang tua yang mau mendengar dan menyimak, yang tak hanya mau menasehati saja.

Sehingga fitrah-fitrah kebaikan seperti fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat yang memang sudah ada didiri mereka, tumbuh subur.

Ya Allah ya Robb,

Sungguh, tanggung jawab yang tak mudah. Mampukan kami ya Allah, untuk mendidik anak-anak seperti yang Engkau mau. Sehingga kelak kami bisa mengembalikan mereka kepada-Mu dalam keadaan sebaik-baiknya.

 

_”Seorang anak yang tidak terdidik pendidikan adab oleh orang tuanya, akan terdidik oleh zaman”_
(Ibnu Khaldun)

Menulis untuk mengingatkan diri sendiri.

Sumber:

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Merundung

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *