Fenomena Minat Baca di Indonesia

16 November 2018

Beberapa hari lalu, saya, suami dan anak-anak menyempatkan menengok toko buku di Kudus yang sempat kami lihat sebelumnya. Di depan toko tertulis “menyediakan buku-buku terbitan gramedia”. Tulisan itulah yang membuat saya tertarik kemudian memutuskan untuk melihat. Kami langsung naik ke lantai dua waktu kami kesana. Lantai dualah tempat buku-buku anak dan buku pelajaran. Akhtar semangat sekali melihat-lihat kesana kemari. Apalagi ada beberapa rak yang menampilkan mainan anak-anak. Diapun langsung menunjuk mainan mana saja yang akan dia beli ketika tabungannya penuh (begitulah setiap dia lihat dan pingin mainan, selalu mengandalkan celengannya 😆).

 

Tak lupa, Akhtar pun memilih beberapa buku. Buku bergambar robot untuk diwarnai dan buku tentang udang. Adik pun saya ambilkan 1 buku mewarnai bergambar mobil. Setelah itu Akhtar kembali berkeliling kesana kemari bersama Arfa dan papanya. Saya memilih beberap buku lagi untuk dibeli. Pilihanpun jatuh pada beberapa buku tentang penbiasaan baik. Ada buku tentang sebaiknya banyak minum air putih, tentang berani tidur sendiri, tentang jangan bersuara keras, dan tentang bertanggung jawab. Selesai saya memilih, giliran papa Akhtar memilih buku. Buku yang beliau pilih adalah buku tentang dongeng-dongeng binatang. Karena memang akhir-akhir ini Akhtar senang sekali diceritakan tentang binatang.

Ke toko buku selalu menyenangkan. Jika boleh, lebih banyak buku ingin kami ambil. Namun apa daya, harus membatasi agar tak terlalu boros. Ah iya, ada 1 kejadian yang menggelitik hati saya ketika di toko buku. Ada 1 keluar yang juga datang kesana. Ada ayah, ibu, dan seorang anak perempuan. Anak perempuan kecil itu meminta dibelikan buku oleh ibunya. Tapi, apa jawaban sang ibu?

“Ah, kamu belum bisa baca, ngapain beli buku. Beli yang lain saja puzzle atau apa.” Begitu kata si ibu.

Hati saya langsung terasa ‘dek’ mendengar itu. Sayang sekali si ibu melewatkan kesempatan untuk mengembangkan minat si anak tentang buku. Tapi bukan berarti beli puzzle tidak baik. Yang saya soroti adalah alasan kenapa tidak mau membelikan buku. Iya, karena belum bisa membaca.

 

Aaaah, seandainya membaca tak diartikan secara sempit. Tak hanya diartikan sebagai mengeja huruf dan membaca kata demi kata, tentu si anak akan mendapatkan buku. Yang bisa jadi melejitkan minat bacanya. Yang bisa jadi suatu saat dia tak hanya bisa membaca tapi juga cinta membaca yang kemudian menguatkan literasi si anak.

 

Apakah saya terlalu sering berinteraksi dengan orang-orang penggiat literasi, orang-orang yang anak-anaknya disediakan banyak buku bahkan sebelum mereka bisa membaca sekalipun? Sehingga saya tak sadar, ternyata masih banyak sekali orang tua yang menganggap memberikan atau membacakan atau membuat anak berinteraksi dengan buku itu adalah tidak berguna. Mereka tidak sadar bahwa interaksi dengan buku adalah dasar untuk membuat mereka bisa membaca. Ini juga membuktikan tentang peringkat Indonesia yang jauh tertinggal tentang literasi. Sebab, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rutin membaca buku. Berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia berada di peringkat 64 dari 72 negara yang rutin membaca. Bahkan, menurut The World Most Literate Nation Study, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara.

Aaaah, seandainya mereka tahu, jika sedari kecil anak-anak dekat dengan buku, insyaaAllah ketika mereka kita tuntut untuk belajar. Tak harus dengan nada tinggi kita memintanya. Tapi dengan kesadaran sendiri mereka mencari dan belajar dari buku.

Saya bukan penggila buku seperti penggerak literasi yang lain. Saya hanya ibu rumah tangga yang senang membaca beberapa buku ringan. Kadang buku tentang pendidikan anak, kadang novel. Pun saya tidak menargetkan tinggi-tinggi tentang minat baca anak-anak saya. Saya hanya ingin menyediakan literasi sebaik mungkin untuk anak-anak. Hasilnya biarlah Allah nanti yang menentukan.

Namun entah mengapa, melihat fenomena itu, saya semakin tergerak untuk membuat rumah baca. Iya, salah satu mimpi saya yang ingin saya wujutkan. Memiliki rumah baca di rumah. Yang bisa menyediakan beberapa buku bacaan untuk anak-anak disekitar rumah. Semoga mimpi saya di ridloi Allah dan suatu saat bisa terwujud.

Sumber:

https://www.google.co.id/amp/s/m.republika.co.id/amp/p7gq3m282

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *