Bunda Cekatan: Kupu-Kupu Kecil Siap Belajar Terbang

8 Mei 2020

Selamat hari Jumat di Bulan Ramadhan. Alhamdulillah sudah memasuki puasa hari ke-16. Semoga puasa kita lancar dan mendapat berkah. aamiin.

Bulan ini, di kelas bunda cekatan, kami memasuki kelas kupu-kupu. Minggu ini kami diminta untuk menjadi mentor sekaligus mentee. Bagi saya menjadi mentee sungguh membahagiakan karena akan mendapat pengalaman dan pembelajaran dari yang ahli. Tapi untuk menjadi mentor, ragu sempat menyerang? mampukah saya? Apa kealian saya? Maukah mentee menerima saya sebagai mentor?, dll.

Pada akhirnya saya memilih untuk berbagi tentang bermain bersama anak secara spontan, karena itulah yang saya lakukan bersama anak-anak 6 tahun ini. Dan metode bermain seperti inilah yang saat ini cocok untuk saya dan anak-anak. Namun, karena tak ada yang melirik, saya merubah deskripsi profile menjadi ibu yang menemani anaknya sekolah di rumah karena anaknya tak mau sekolah di usia 4 tahun alias homeschooling usia dini.

Perjalanan mencari mentor

Mentor saya seorang psikolog dengan fokus belajar pengendalian pikiran. Saya lamar menjadi mentor setelah saya ditolak 3 kali oleh mentor yang fokusnya pada pendidikan anak dan tumbuh kembang anak. Saya mulai berpikir, saat saya mulai beralih pada pendidikan anak, mengapa pada akhirnya saya mendapat mentor dengan fokus belajar pengendalian pikiran? Apakah saya diarahkan untuk belajar kembali tentang menajemen emosi? Apakah masih ada sesuatu didiri saya yang masih perlu dieksplore tentang menajemen emosi ini? Mari kita lihat jawabannya di mentoring berikutnya teman-teman.

Perjalanan mencari mentee

Selain menjadi mentee, kami diminta menjadi mentor. Seperti saya jelaskan di atas, saya memilih untuk sharing tentang homeschooling anak usia dini ala keluarga kami. Namun, sampai saat ini, tak ada mentee yang melamar saya untuk jadi mentor. Melamar mentee punĀ  sudah saya lakukan. Banyak mantee yang saya lamar telah memiliki mentor. Bahkan, beberapa menit sebelum saya membuat jurnal ini, saya masih berusaha mencari mentee. Namun nihil.

Dari hasil Tallent Mapping, Communication saya abu-abu yang artinya kurang berbakat dalam menyampaikan apa yang ada dalam pikiran. Dan juga Winning Others Over saya hitam yang artinya tidak nyaman saat menyapa orang-orang baru. Tentu saja mencari mentee, menyapa mereka, lalu melamar mereka untuk saya mentori adalah tantangan yang menguras banyak tenaga. Namun, responsibility saya yang merah (yang artinya punya tanggung jawab yang kuat terhadap tugas) membuat saya berusaha untuk melaksanakan tugas baik sebagai mentor dan mentee.

Setelah proses melamar lalu ditolak, melamar lagi lalu di tolak lagi sampai beberapa kali, saya memutuskan untuk fokus jadi mentee saja. Bisa jadi saya diarahkan untuk banyak belajar terlebih dulu. Baru suatu saat jika sudah cukup ilmu dan pengalaman, bisa menjadi mentor seseorang.

Saat ini, biarlah saya belajarĀ  menjadi mentor dari bagaimana mentor saya mementori saya.

Selain itu, walau tak dapat mentee, saya banyak belajar dari proses ini. Belajar untuk tak baper walau ditolak, tak baper walau dicueki, dan tak baper walau tak dapat mentee.

 

You did a good job Tutik. Selamat untuk terus berusaha walau tak nyaman. . .

 

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *