Bisa Jadi itu adalah Post Power Syndrom

14 September 2018

Hari ini beberapa kali membaca status ataupun diskusi tentang Post Power Syndrom (PPS). Penasaran, akhirnya saya baca beberapa artikel tentang PPS. Jadi Post Power Syndrome itu sindrom yang bersumber dari berakhirnya suatu jabatan atau kekuasaan, di mana penderita tidak bisa berfikir realistis, tidak bisa menerima kenyataan, bahwa sekarang sudah bukan pejabat lagi, bukan karyawan lagi, dan sudah pensiun (Suardiman, 2001).

Kebanyakan dari artikel yang saya baca, PPS sering menghampiri orang-orang yang telah pensiun. Apalagi ketika mereka masih bekerja, mereka merupakan orang berpengaruh. Tetapi ternyata, PPS juga bisa menghampiri ibu-ibu seperti kita yang harus meninggalkan ranah publik untuk fokus di ranah domestik.

Dan bisa jadi, rasa kosong, tak nyaman dan rasa tak berharga yang selama ini saya bilang jetlagΒ setelah memutuskan resign waktu itu adalah PPS.

Iya, seingat saya dulu saya merasa kosong, tak nyaman, tak PD, dan sering curiga. Mungkin karena waktu itu keputusan resign juga diambil hanya dalam waktu 2 minggu. Frustasi karena selama 3 bulan, kami bolak-balik ganti pengasuh anak. Tanpa persiapan matang dan tak tahu apa yang akan dilakukan saya diminta suami untuk resign.

Mengingat masa-masa SD dan SMP yang penuh prestasi. Masa-masa SMA dan kuliah yang selalu punya target dan tercapai. Merasa selalu punya banyak kegiatan dan komunitas sejak SD sampai kuliah. Dan merasa belum menemukan pekerjaan yang “bagus” yang bisa dibanggakan. Kemudian harus berakhir dengan resign dan harus berhenti lalu meninggalkan keinginan untuk bekerja di tempat bergengsi adalah hal yang menyikda. Daaan yang tak kalah bikin hati teriris saat itu adalah harus meminta apapun dari suami.

Rasa-rasa tak enak mulai muncul. Merasa sendiri, tak PD, kosong dan curiga. Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk berjualan online dengan tujuan untuk bisa berkomunikasi dengan banyak orang tetapi tidak banyak keluar rumah. Waktu itu saya memasarkan mainan edukasi dan buku anak melalui online. Alhamdulillah banyak yang tertarik dan banyak yang ikut arisan. Akhirnya dari situ saya mulai memiliki kepercayaan diri dan tak lagi merasa kosong mlompong. Setiap hari bertegur sapa dengan konsumen dan reseller-reseller. Rekeningpun kembali terisi dari usaha sendiri.

Kemudian takdir menuntun saya bertemu dengan IP Bekasi. Berlanjut mengikuti matrikulasi yang waktu itu diadakan. Dan saya mulai merenung ketika mengerjakan NHW tentang peran kita di bumi (saya agak lupa NHW yang keberapa) . Mengapa kita diciptakan. Mengapa kita bertemu dengan orang ini dan itu. Yang intinya adalah apapun yang terjadi pada kita merupakan kehendak Allah. Ada maksud Allah dibalik hal itu. Termasuk ketika saya tiba-tiba harus berhenti kerja. Y! Pasti ada alasan mengapa Allah merancang hidup saya seperti itu. Dan saya semakin semeleh, semakin menerima apa yang saat itu saya hadapi.

Lalu, ketika menerima materi tentang peran hidup dan produktivitas dan mencari tahu apa yang di suka dan tidak suka serta bisa dan tidak bisa, saya kemudian merenung kembali bahwa selama ini banyak hal yang tidak saya suka, saya lakukan. Bahwa prinsip saya tentang, apapun saya bisa lakukan asal saya berusaha keras ternyata kurang pas. Akhirnya saya pelan-pelan merubah mindset tentang kehidupan, tentang bekerja, tentang kesuksesan. Tentang ibu yang bekerja di ranah publik atau domestik sama-sama punya peran. Lalu, bekerja di perusahaan besar dan bergengsi bukan lagi tujuan.

Dan inilah saya sekarang, yang mulai menerima keadaan dan mulai menata mimpi berdasarkan apa yang saya suka. Yang sudah tak lagi jetlag.

Yang bangga menjadi Ibu Rumah Tangga.😊😊😊

Sumber:

https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://etheses.uin-malang.ac.id/1633/6/08410072_Bab_2.pdf&ved=2ahUKEwi3wNSP7rndAhUFqY8KHbBoDO4QFjAJegQIBhAB&usg=AOvVaw1Hta9-YhRfYUYCvf3c-5Ir

 

#odoprumlitipjepara

#538kata

4 Komentar

  • Nurul FE 14 September 2018pada08:23

    Aku juga pernah mengalami PPS ini mbak, awal resign dan pindah kudusπŸ˜‚

    • tutikandarini 1 Oktober 2018pada06:56

      Tapi skrg udah ga PPS lagi mbak?
      Ga enak ya mbak rasanya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜…

  • muflikhah 4 Desember 2018pada04:07

    saya banget mb. masih butuh belajar buat benar2 keluar dari keadaan ini

    • tutikandarini 7 Desember 2018pada09:57

      Salam kenal mbak muflikhah πŸ€—.
      Betul mba, sayapun begitu. Semoga dengan berjalannya waktu, kita sama2 bisa benar2 keluar ya mba πŸ€—

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *