Berteman Dengan Keramaian

25 Juli 2018

Kalau lihat foto ini adem yaa. Saling gandeng, saling menjaga.

Tapiii, ibu-ibu yang punya toddler sekaligus bayi di rumah kebanyakan tau lah ya bagaimana ramainya ketika mereka berebut mainan, iseng-isengan, marahan, dan saling cari perhatian. Manjur bikin kerutan di wajah mama bertambah 😂😂😂.

Namanya manusia biasa, kadang pusing ya, kalau denger tangisan, rengekan, dan teriakan? Pun saya juga sering sakit kepala kalau sudah nangis semua dan berebut. Ada beberapa hal yang bisa membantu saya mengatasi “keramaian” itu, yaitu:

  1. Membuat hak kepemilikan. Jadi setiap barang yang ada di rumah punya pemilik. Siapa yang mau pakai harus pinjam dan seizin pemilik. Ada juga barang milik bersama misal tv, kulkas, buku. Mainan pun juga ada yang milik mas Akhtar ada yang milik adek Arfa. Untuk mainan ini, siapa yang pertama mainan itu yang boleh main duluan, tidak boleh berebut;
  2. Saling meminta maaf. Jika ada yang salah harus minta maaf. Sangat menghindari kalimat “yang lebih besar mengalah”. Kalau adek merusak lego yang dibuat mas Akhtar ya harus minta maaf (red: peluk, karena adek belum bisa omong maaf) ke mas Akhtar begitu pula sebaliknya. Pun, kalau mama atau papa salah ke Akhtar atau Arfa, kami pun minta maaf. Intinya, siapa yang salah dia yang minta maaf.

 

Dua hal itu cukup membantu saya mengurangi pertengkaran mereka. Kenapa tidak diminta untuk berbagi? Yang besar meminjamkan yang kecil? Yang pernah saya baca, konsep berbagi bisa diajarkan jika konsep milik sudah tuntas. Dan bagi saya tak apa anak di bawah 5 tahun belum bisa berbagi. Selama kita selalu memberi contoh untuk berbagi.

Daaan, yang perlu digaris bawahi si mama, “keramaian” itu wajar ya. Bahkan kok rasanya aneh kalau “keramaian” itu atau yang sering disebut sibling rivalry ini tidak ada. Orang tuanya yang harus belajar untuk mengelola pertengkaran, bukan mengatasinya, bukan membuat pertengkaran tidak ada. Kapan orang harus jadi pengamat dan kapan harus jadi penengah. Memberikan kesempatan mereka untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Jika kita, orang tua, terbiasa menyelesaikan masalah anak, siapa yang akan menyeselesaikan masalah mereka ketika kita tak ada? Karena kita tidak bisa menjamin sampai kapan kita bersama anak-anak kita.

 

Kudus, 25 Juli 2018

Ibu yang belajar menahan diri untuk tidak terlalu terlibat ketika anak bertengkar

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *