Berpindah-pindah

28 Maret 2019

Setiap ada pertemuan selalu ada perpisahan. Kalimat yang sering kita dengar atau baca. Kejadian yang juga lekat dikehidupan kita. Pun dengan kami. Istri-istri yang sudah bekomitmen dengan pekerjaan suami yang berpindah-pindah.

Dua hari lalu, tepatnya hari Selasa, kami melepas 2 teman untuk menemani suami masing-masing ke tempat tugas yang baru. Diadakan acara perpisahan sekaligus arisan rutin bulanan. Saat saya bercerita tentang pertama kali naik motor bertiga bersama anak-anak.

Baca : Akhirnya saya naik motor bertiga

Perpisahan ini mengingatkan saya tentang kepindahan kami sekitar 1 tahun yang lalu. Dari Bekasi ke Kudus. Setelah keluar pengumuman mutasi, dua minggu waktu suami untuk lapor di kantor yang baru. Artinya 2 minggu pula waktu kami untuk packing. Banyak hal yang perlu dipikirkan. Barang-barang yang akan dibawa, tempat tinggal di tempat yang baru, juga tentang overcredit rumah yang kami tempati. Belum lagi 2 anak yang masih sama-sama kecil.

saya belum mampu betul beradaptasi dengan kehadiran anak kedua (yang waktu itu berusia 1 tahun) sudah harus beradaptasi dengan lingkungan dan keadaan baru. Yang nantinya juga harus mengatasi kondisi adaptasi yang akan dialami anak-anak. Adaptasi yang berlipat-lipat.

Tetangga yang sudah seperti saudara sempat kaget tentang kepindahan kami. Namun, mereka melepas kami dengan baik. Mereka bahkan memberikan kami kejutan beberapa hari sebelum keberangkatan kami. Kado-kado juga berdatangan. Ya Allah, rasanya saya tak ingin meninggalkan tempat itu. Apalagi meninggalkan rumah pertama yang kami beli (walaupun dengan kredit). Banyak kenangan yang kami bangun di sana. Saksi pertumbuhan anak-anak. Juga saksi pertumbuhan pernikahan kami. Yang awalnya masih sangat lemah hingga menjadi lebih kokoh.

Tiga hari sebelum lapor di tempat baru, kami pulang ke Boyolali, rumah orang tua saya. Kami memang memutuskan untuk memboyong semua sekaligus agar tak bolak-balik. Mengingat suami langsung aktif bekerja setelah lapor. Juga agar saya tak kebingungan sendiri sedangkan suami jauh di Kudus.

Sekitar 1 bulan saya tinggal di rumah orang tua selagi suami mencari rumah kontrakan. Saat rumah kontrakan sudah di dapat dan barang-barang besar dari Bekasi sudah tiba, kami pun menempati rumah kontrakan tersebut.

Kami menapaki hari-hari yang baru. Tak hanya anak-anak yang rewel karena kondisi yang baru. Sayapun merasakan kondisi yang tak enak. Atau sebenernya anak-anak yang terpengaruh kondisi saya? Kerewelan mereka karena kekhawatiran saya?

Entah lah, apapun alasannya, beberapa bulan pertama adalah waktu yang cukup sulit untuk kami, terutama saya. Apalagi saya yang memang seseorang yang bersifat observer. Orang yang tak bisa langsung membaur pada suatu keadaan sebelum dia menganalisis keadaan tersebut.

Tantangan lain datang saat rumah di Bekasi ada yang mau. Beberapa notaris di Salatiga kami datangi untuk membuat surat kuasa berharap saya tak harus ikut ke Bekasi. Namun hasilnya nihil. Terpaksa saya dan anak-anak ikut ke Bekasi untuk menandatangani berkas-berkas. Cukup melelahkan tak hanya fisik tapi juga pikiran. Itulah mengapa akhirnya kami memutuskan untuk membeli rumah di daerah yang dekat orang tua kami. Jadi saat kami harus berpindah lagi, kami tak harus berpikir tentang rumah seperti rumah Bekasi

Walaupun terkesan heboh dan sulit, ternyata berpindah-pindah ada positifnya. Saya merasakan bahwa teman-teman yang merasakan tempat tinggal yang berubah-ubah memiliki aura positif. Berpikir lebih positif. Itu juga saya rasakan. Perbedaan budaya yang saya temui dibeberapa tempat (walaupun masih disekitaran Jawa) membuat saya berpikir bahwa tak selamanya benar adalah benar, salah adalah salah. Tergantung darimana kita melihat. Bagaimana lingkungan kita membesarkan kita. Bisa jadi di tempat ini A adalah hal yang tak baik, tetapi di tempat lain A adalah hal yang baik, dll. Perbedaan budaya dan pola pikir yang banyak ditemui membuat pandangan lebih luas dan membuat orang lebih bijaksana. Dan ya, lebih yakin pada aturan Allah yang lebih universal. Aturan yang dipakai dimanapun tempat tinggal kita.

Kini, sudah 1 tahun lebih kami di sini, masih ada waktu untuk bernapas panjang sebelum nanti waktunya deg-deg an menunggu giliran dipindahtugaskan.

Untuk teman-teman yang berpindah tempat menemani suami bertugas, semoga selalu sukses dan semakin berkah.

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *