Berlebaran dan Bersilaturahmi Bersama Anak Usia Dini yang Aktif

12 Juni 2019

Bersilaturahmi dengan dua anak aktif

Gema takbir berkumandang. Menandakan Ramadhan telah pergi. Idul Fitri terlah datang. Lantunan takbir yang bersahutan membuat hati bergetar. Sedih tak kentara karena bulan dimana diobralnya pahala oleh Allah telah pergi. Sekaligus haru biru menyambut idul fitri. Menyambut kemenangan setelah berhasil menahan hawa nafsu.

Begitulah suasana 1 minggu yang lalu, 1 Syawal 1440 H yang bertepatan dengan hari Rabu, 5 Juni 2019. Sholat Idul Fitri dilaksanakan. Kemudian sungkem pada orang tua. Tak lupa silaturahim dan silaturahmi ke saudara dan kerabat sebagaimana lebaran-lebaran sebelumnya.

Begitupula yang keluarga kami lakukan. Berkunjung ke rumah-rumah saudara dan kerabat yang lebih sepuh sudah menjadi tradisi. Bedanya, 6 tahun terakhir, kami merayakan dengan status suami istri dengan bayi dan/atau balita yang aktif dan menggemaskan. Tentu, lebaran menjadi berbeda. Selain rumah saudara dan kerabat yang dikunjungi lebih banyak, waktu pun terbatas karena kami harus segera kembali keperantauan.

Banyaknya rumah yang harus dikunjungi dan waktu yang terbatas membuat jadwal kami padat. Juga membutuhkan gerak cepat agar semua selesai. Namun, saat ada anak kecil dalam sistem tersebut, tentu tak semudah yang dibayangkan.

Ada kalanya anak rewel karena kecapean. Atau badan tak enak karena terlalu banyak makan makanan manis dan asin khas lebaran. Atau kebosanan saat perjalanan. Perlu obrolan dan negosiasi panjang dengan anak agar bersepakat. Bersyukur jika satu kesepakatan bisa diterima dua anak. Jika tidak, waktu yang diperlukan tentu lebih banyak.

Belum lagi jika kerewelan anak berlanjut saat kita bertamu. Atau saat anak bersikap seolah-olah di rumah sendiri. Mengambil banyak makanan dan minuman, berlari-larian, dll.

Sungguh membawa anak saat bersilaturahmi ke rumah-rumah memiliki tantangan yang cukup berat.

Bagaimana mengatasinya?

Bagi saya, hal wajar dan lumrah ketika anak rewel dan bertingkah saat lebaran. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti kelelahan, makanan, kebosanan, dll.

Berikut tips dari saya saat bersilaturahmi di hari lebaran.

  • Sounding bagaimana kita harus bersikap saat bertamu. Bahwa saat bertamu, kita harus sopan, tidak berteriak, tidak berlarian, duduk tenang, dan menghormati kami orang tua yang sedang mengobrol. Namun jangan berekspektasi terlalu tinggi yaa. Namanya anak-anak, tak mungkin sekali dua kali diberi tahu, langsung bisa melaksanakannya. Perlu proses yang bisa jadi panjang. Ini yang harus kita sadari sebagai orang tua. Dengan begitu, kita bisa lebih waras menghadapi anak saat bertamu.
  • Membuat kesepakatan. kesepakatan ini biasanya dibuat sebelum bertamu. Misal, apa konsekuensi saat anak berteriak, atau rewel, atau berlarian saat bertamu. Biasanya kami akan mengambil kesenangan mereka jika mereka melanggar. Midalnya, tidak makan jajan di hari berikutnya, tidak main hp di hari berikutnya, dll.
  • Memberi pilihan. Jika anak sudah terlihat tak nyaman tapi masih bisa diatasi, biasanya kami beri pilihan. Apakah anak ikut dengan kami masuk ke rumah atau menunggu di mobil. Kedua pilihan disertai dengan kondisi yang menyertai. Jika ikut berarti harus sopan dan menghormati kami yang sedang ngobrol. Jika di mobil artinya sendirian. Anak sulung kami biasanya memilih di mobil.

Jika anak sudah benar-benar tak nyaman (lebih banyak rewel), ada baiknya berhenti dan melanjutkan di hari berikutnya. Bagaimana pun, silaturahmi maupun silaturahim itu penting. Namun, menjaga kemuliaan anak juga penting.

Membiarkan anak rewel dan bertingkah sehingga membuat orang lain berpikir negatif tentang mereka berarti kita tak menjaga kemuliaan anak. Cap kurang baik yang disematkan beberapa orang kepada anak kita tentu tak baik untuk kesehatan mental mereka.

Sedangkan kami memilih jalan untuk memahami anak-anak bahwa akal dan pikiran mereka belum mampu untuk melakukan adab secara sempurna. Mengajarkan adap dan aturan kepada mereka tak mungkin hanya sekali dua kali.

Namun, menjelaskan satu persatu kepada orang yang kita temui tentang pandangan dan cara kita mendidik mereka juga tentu tak mungkin.

Jalan tengah yang bisa kita lakukan adalah bersilaturahmi semaksimal mungkin dengan batasan kemampuan anak-anak kita. Jika mereka sudah tak lagi nyaman, ada baiknya kita istirahat.

Daaaan, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, keriwehan dan kerempongan kami bersilaturahmi membawa 2 anak bawah 7 tahun sudah selesai. Kini tinggal capek dan cucian kotor yang menggunung. Oleh-oleh khas lebaran. 😆

Oh iya, mumpung masih dalam suasana lebaran, dengan segenap kerendahan hati, saya mengucapkan

Taqobbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum
Barakallahu fikum

*Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1440 H*
*Mohon Maaf Lahir dan Batin*

Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Aamiin

Kudus, 12 Juni 2019

tutikandarini.com

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *