Berbagi Rasa, Berbagi Asa

10 Maret 2020

Selamat siang. . .

Hari Selasa, waktunya mengerjakan tugas bunda cekatan.

Sebelum ke tugas, saya ingin bercerita sedikit tentang kelucuan dan keseruan selama mengerjakan tugas minggu ini.

Minggu ini, kami diminta untuk mencari buddy. Yaitu satu teman untuk berbagi aliran rasa dan berbagi bekal.

Seperti biasanya, saya mulai memikirkan tugas bunda cekatan di hari Senin. Namun, setelah melihat kehebohan teman-teman tentang buddy, saya mulai gelisah di hari Ahad.

Mulailah saya “melamar” beberapa teman dekat yang sekiranya sudah terbiasa berdiskusi.

Dan taraaa, hasilnya NIHIL. Mereka sudah memiliki pasangan. 😆😆😆

Saya mulai menjapri teman yang sudah kenal ataupun teman seregional. Namun, tetap nihil. Mereka semua sudah ada pasangannya.

Saya mulai gelisah, tapi berusaha tetap tenang.

Akhirnya saya bertanya di FBG (ini bukan cara saya banget btw 😅 ) khususnya di video live nya bunda Septi. Tak ada respon.

“Mungkin karena weekend jadi tak ada yang lihat.” Begitu pikir saya. Mencoba positif.

Lalu, saya mencoba cara kedua. Saya mengatakan di grup HIMA (himpunan mahasiswa) IP Jepara, regional saya, jika saya belum berpasangan.

Angin segar datang saat mbak Lala, teman seregional. Beliau ingin membantu dengan mengenalkan teman beliau yang belum berpasangan juga.

Tak lama, ada WA baru masuk. Saya jawab salam dari WA tersebut. Namun, beberapa waktu kemudian dijawab lagi dengan permohonan maaf. Bahwa saat mem-WA saya, beliau diminta untuk dijadikan buddy oleh yang lain.😆😆

Sedikit kecewa tapi berusaha untuk menerima. Lalu saya ucapkan selamat untuk beliau.

Angin segar datang lagi kepada saya saat mbak Leska, yang tadi WA saya, mengatakan akan mengenalkan saya pada temannya yang lain.

Daaan, begitulah akhirnya saya bertemu dengan buddy saya, Mbak Murdianah dari IP Tangsel.

Mbak Murdianah adalah ibu dari 2 putri dan 1 putra. Putra putri mbak Murdianah semuanya homeschooling. Mengetahui hal ini, saya langsung berbinar. Apalagi saat mbak Murdianah bercerita tentang mengapa beliau memilih ber-HS. 😍

Putra mbak Murdianah seusia dengan putra pertama saya, Akhtar. Kami saling bercerita tentang mereka karena mereka seusia.

Lalu, kami juga bercerita tentang mind map kami. Dan ide perubahan yang ingin kami lakukan setelah beberapa pekan di kelas bunda cekatan.

Beliau bercerita bahwa selama menjalani bunda cekatan beliau mendapat banyak insight. Salah satunya tentang portofolio yang pernah dipaparkan mbak Ika beberapa waktu lalu. Insigt itu pulalah yang membuat beliau ingin menambahkan portofolio di mind map beliau. Dan yang membuat beliau masuk ke keluarga portA (keluarga portofolio).

Saya banyak belajar dari mbak Murdianah tentang bagaimana cara HS di keluarga beliau. Mendapat insight dari cerita-cerita beliau selama 5 tahun menjalani HS.

Saya sempat bingung apa yang akan saya bawakan untuk bekal beliau mengingat pengalaman beliau ber-HS sudah 5 tahun.

Namun, setelah melihat kembali mind map dan aliran rasa dari mbak Murdianah, akhirnya saya memberi sedikit bekal untuk beliau.

Yaitu Framework FBE, Karakteristik usia anak sesuai FBE, dan personalize curriculum.

Semoga cocok dan bermanfaat untuk mbak Murdianah yang di mind map-nya ada poin tentang kurikulum masing-masing putra-putri mbak Murdianah.

Dan sayapun mendapat banyak bekal dari mbak Murdianah.

Ada cara meminta maaf, belajar sains menggunakan barang bekas, dan anti mati gaya selama Ramadhan.

MasyaAllah, sangat bermanfaat. . .

Terima kasih ya mbak Mur, sudah menjadi buddy saya di minggu ini.

Terima kasih sudah berbagi rasa, berbagi asa bersama saya. 🥰🥰🥰

Semoga komunikasi dan silaturahim terus berjalan. . .

Satu Komentar

  • Murdianah 10 Maret 2020pada11:47

    Aamiin ya Allah.. 😘😘😘

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *