Belajar Pola Asuh Ramah Otak

16 Juli 2019

Buku itu berjudul “Membangun Karakter Anak Melalui Brain-Based Parenting (Pola Asuh Ramah Otak)”. Buku yang menjadi bahan diskusi kegiatan Sinau Buku Sabtu, 13 Juli 2019 lalu.

Buku tentang pola asuh ramah otak (sumber: tokokarakter.com)

Sinau Buku adalah klub buku yang digagas oleh mbak Nurul. Seorang sahabat, penggerak literasi dan pendidikan anak usia dini. Beliau juga pernah mengajar di sekolah dengan metode Brain-Based Parenting, seperti buku yang sedang dibahas. Mbak Nurul menjelaskan bahwa tujuan dibukanya klub buku ini adalah untuk mengembalikan kita ke buku. Buku sebagai referensi utama meski tersebar informasi di media sosial maupun di internet. Juga untuk saling bertukar pendapat mengenai tantangan pengasuhan di keluarga masing-masing.

Sabtu kemarin adalah pembukaan klub buku tersebut. Dibuka mbak Nurul dengan membahas buku di atas, “Membangun Karakter Anak Melalui Brain-Based Parenting (Pola Asuh Ramah Otak)”.

Mbak Nurul sedang menjelaskan pola asuh ramah anak dari buku (saya sedang menyimak 😁)

Setelah memposting foto dengan keterangan kegiatan, banyak yang meminta saya sharing kegiatan tersebut. Jadilah, hari ini saya coba tulis disini. Hanya saja, saya belum membaca bukunya. Juga saya tak bisa menyimak keseluruhan materi. Jadilah apa yang saya ingat saja yang akan saya tulis disini. Semoga tetap bermanfaat yaa. 🤗🤗

Jadi pola asuh ramah otak itu yang seperti apa?

Sebelum membahas itu, mari kita kenali otak anak dan bagian-bagian otak.

Jadii, anak sudah membawa seratus ribu sel otak dan lima ribu sambungannya saat dilahirkan. Otak bayi adalah 25% otak orang dewasa. Artinya, mereka sama dengan orang dewasa. Hanya saja, otaknya belum berkembang.

Menurut teori perkembangan, otak terdiri dari 3 bagian.

  1. Otak Korteks : berfungsi untuk berpikir kritis
  2. Otak Limbik : berfungsi untuk merasakan emosi seperti bahagia, sedih, kecewa, dll.
  3. Otak Batang (otak reptile): berfungsi untuk mengendalikan fungsi tubuh otonom seperti detak jantung, pernafasan, dll.

Otak yang berkembang lebih dulu pada anak usia 0-5 tahun adalah otak batang (reptile). Otak ini memiliki karakteristik sama dengan reptile saat menerima gangguan dari luar seperti menyerang, lari, atau mempertahankan diri.

Itu pula lah yang terjadi pada anak-anak saat terancam. Mereka akan lari, menyerang atau mempertahankan diri. Mereka belum bisa berpikir kritis tentang suatu hal. Yang mereka pahami adalah enak vs tidak enak. Mereka akan melakukan sesutu yang mereka anggap enak.

Contohnya seperti ini:

Seorang anak yang diajak mandi oleh ibunya tetapi si anak tak mau (artinya dia menganggap mandi = tak enak). Saat dipaksa mandi maka anak akan berteriak (menyerang) atau pergi menjauh dari ibu (lari).

Mereka belum bisa berpikir bahwa mandi itu membuat tubuh menjadi segar dan membersihkan diri dari kuman. Beluuuum, mereka belum bisa berpikir seperti itu. Karena otak korteks, bagian yang berfungsi untuk berpikir kritis, belum berkembang. Mereka baru bisa membedakan enak vs tak enak.

Solusinya bagaimana?

Membuat mandi menjadi hal yang enak bagi anak. Maka mereka akan mendatanginya secara suka rela.

Memangnya mengapa kok harus dibuat enak dan menyenangkan bagi anak?

Jadi, di otak limbik terdapat bagian yang menghasilkan hormon cinta dan stres. Bagian tersebut bernama amigdala.

  • Hormon stres akan keluar saat anak merasa terancam seperti saat dipaksa, disalahkan, diancam, dll. Misalnya,”Kalau ga mau mandi mama tinggal ya!” (Mengancam)
  • Hormon cinta akan keluar saat anak bahagia.

Kabar buruknya adalah saat hormon stres sering keluar, otak batang (reptile) akan membesar. Jika otak reptile besar, otak korteks dan limbik akan menciut. Yang membuat merinding adalah keadaan tersebut akan dibawa anak sampai dewasa. 😭😭😭

Kenapa membuat merinding?

Karena saat otak korteks tak berkembang dengan baik maka mereka tak bisa berpikir kritis. Saat otak limbik tak berkembang dengan baik, mereka tak bisa merasakan emosi (tidak bisa berempati). Saat ini banyakkan berita tentang pembunuhan, pemerkosaan anak sendiri, mutilasi, dll. Yang bahkan kadang tak masuk akal. Kadang juga tanpa rasa bersalah.

Naudzubillahimindzalik 😭😭😭.

Nah, jika hormon cinta banyak diproduksi, anak akan bahagia. Batang otak berkembang sewajarnya. Akibatnya otak korteks dan limbik berkembang sempurna. Maka anak akan lebih cerdas, bisa berpikir kritis, dan memiliki empati.

Agar lebih mudah memahami fungsi otak korteks dan limbik, mbak Nurul memberi contoh seperti ini:

Saat ada acara, ada teman yang terlambat (sebut saja saya 😂😂😂). Mbak Nurul kemudian berkomentar seperti ini:

“Kenapa sih kok si A telat?”

“Oh mungkin karena repot punya anak dua”  (berpikir kritis dengan otak korteks)

“Aku pun juga gitu kok, sering telat karena repot sama anak-anak” (berempati menggunakan otak limbik).

Setelah berpikir seperti itu, mbak Nurul tak jadi emosi. Karena emosinya sudah di filter oleh otak korteks dan limbik. Kalau bisa berpikir seperti itu, hidup jadi lebih enak dan mudah bukan? Bisa berpikir positif dalam setiap keadaan jadi tak rentan stres atau depresi.

Itulah pentingnya kita, orang tua, menerapkan pola asuh ramah otak di usia anak 0-5 tahun. Karena apa yang kita lakukan saat ini akan sangat berpengaruh sampai anak dewasa.

===================================

Sebenarnya, setelah bahasan ini, ada bahasan lain yang diterangkan oleh mbak Nurul. Seperti membuat anak bahagia dengan sentuhan seperti belaian, ciuman, pelukan. Namun saat itu saya tak bisa menyimak karena anak sudah rewel.

Saya uraikan lain waktu ya, kalau sudah pinjam dan membaca bukunya 🤗🤗

Intinya adalah……

Saat anak berusia 0-5 tahun, yang harus kita lakukan adalah membuat mereka bahagia. Agar hormon cintalah yang banyak diproduksi. Agar otak batang tak berkembang melebihi otak korteks dan limbik.

Cukup menantang ya bu ibuk. Saya pun merasa tertantang. Tentu perlu banyak belajar dan berlatih agar mahir menerapkan pola asuh seperti ini.

Jadiiii, mari terus belajar dan berlatih bu ibuk. Semangaaat 🥰🥰🥰

Terima kasih juga untuk mbak Nurul yang telah menginspirasi lewat Sinau Buku. 🥰🥰🥰

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *