Baby Blues dan Depresi Postpartum

29 Maret 2019

Gambar : mommyasia.id

Akhir-akhir ini, banyak berita berseliweran tentang seorang bayi 5 bulan yang di kubur hidup-hidup oleh ibunya sendiri. Hal miris dan menyedihkan. Terasa menyayat hati membaca kondisi bayi yang belum juga membaik sampai saat ini. Mata tak terasa sudah berkaca-kaca. Langsung teringat pada 2 anak yang saat ini sedang tidur.

Namun, kali ini saya tak ingin terlalu banyak membahas tentang anak tersebut. Saya lebih tertarik dengan kondisi si ibu. Ibu yang ternyata sudah mengalami depresi sejak usia kandungan 7 bulan. Begitu informasi yang diperoleh dari pihak keluarga. Yang saat ini sedang diselidiki lebih lanjut oleh polisi tentang kebenarannya.

Terlepas benar atau tidaknya depresi si ibu, saya hanya ingin berempati pada si ibu. Bagaimanapun baby blues dan postpartum depression (PPD) itu nyata dan ada di sekitar kita. Bahkan mungkin dirasakan oleh orang-orang disekitar kita.

Nah, agar lebih aware tentang baby blues dan PPD ini, mari kita uraikan satu persatu.

Baby blues

Baby Blues biasanya ditandai dengan perubahan emosi yang cukup signifikan pada ibu. Perubahan emosi tersebut terlihat dari naik turunnya emosi, rasa sedih, mudah lupa, mudah tersinggung dan stres ketika bayi lahir. Ibu yang mengalami Baby Blues juga sering menangis dan sering merasa cemas karena takut tidak bisa merawat bayinya dengan baik.

Baby Blues dipercaya lebih disebabkan oleh perubahan fisiologis yang dialami ibu setelah melahirkan, dan intensitasnya dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis.

Postpartum Depression (PPD)

PPD memiliki gejala yang lebih serius. Ibu dengan PPD biasanya

  • merasa kehilangan nafsu makan atau justru makan berlebihan
  • mengalami kesulitan tidur atau justru tidur berlebihan
  • merasakan kelelahan yang berarti dan tidak berenergi meskipun sudah beristirahat dengan cukup
  • merasa kehilangan harapan, putus asa dan kurang gairah hidup
  • Kesulitan membangun ikatan dengan bayi juga muncul disertai pemikiran bahwa ibu tidak mampu menjalankan perannya dengan baik
  • merasakan rasa malu, rasa bersalah, dan mengalami penurunan harga diri
  • merasa kesulitan merasa bahagia atas kelahiran bayi
  • kehilangan minat untuk mengerjakan aktivitas sehari-hari, sehingga seringkali ibu kehilangan kemampuan untuk mengurus bayinya
  • bahkan kadang memiliki pemikiran untuk menyakiti dirinya sendiri atau bayinya.

PPD lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor psikososial seperti stres berlebih yang dialami ibu.

Baby Blues bisa dialami hingga 80 persen wanita hamil dan melahirkan, sementara Depresi Postpartum hanya dialami paling banyak 20 persen wanita hamil dan melahirkan.

Jumlah yang cukup tinggi bukan? Dari 10 wanita hamil/melahirkan ada 8 yang mengalami baby blues. Hanya 2 yang tidak mengalami. Dan berita buruknya, wanita yang mengalami baby blues tanpa penanganan yang baik, rentan mengalami PPD. Yang artinya dampaknya jauh lebih buruk dibanding baby blues. Contohnya? Jika benar ibu yang mengubur bayi mengalami PPD, jelas kematian anak atau ibu atau kedua-duanya adalah hal terburuk. Sungguh menakutkan bukan?

Sayangnya, gejala baby blues maupun PPD yang umum, tidak spesifik, dan terlihat biasa membuat ibu atau orang-orang di sekitar menganggap hal tersebut biasa saja. Bahkan sering dijadikan bahan untuk menyudutkan ibu.

Sudah menjadi budaya bahwa seorang wanita atau ibu dituntut untuk bisa melakukan apapun bahkan setelah melahirkan. Bisa mengurus anak, suami, pekerjaan rumah, dll dengan baik dan sempurna. Kesalahan ibu sedikit saja adalah masalah besar. Pekerjaan rumah harus selesai, mengurus suami pun harus baik. Tidur dianggap bermalas-malasan. Pekerjaan rumah tangga yang tak diprioritaskan juga menjadikannya seorang ibu yang tak becus. Belum lagi komentar sana sini yang menganggap cara ibu mengasuh anak yang tak baik hanya karena berbeda. Daaaan tuntutan ataupun komentar yang selalu ditujukan pada wanita. Bukan pada pria atau ayah.

Ah iya, sayangnya lagi, komentar-komentar tersebut biasanya datang dari sesama wanita. Sama-sama ibu, sama-sama istri. Bukankah seharusnya kita bisa lebih berempati pada sesama wanita? Mengapa kita malah saling menjatuhkan dan beradu menang?

Bisa jadi, karena perkataan yang tak perlu itulah yang membuat stress seorang ibu. Yang kemudian menjadikannya depresi. Jika sudah depresi parah, nyawa anak dan ibu jadi taruhannya. Bisa jadi, depresi adalah akibat komentar yang tak tepat bukan?

Jadiiii, saya sangat berharap, juga sedang sangaaaaat berusaha untuk menahan komentar saya terhadap ibu hamil atau baru melahirkan. Jika memang tak bisa membantu mengasuh atau meringankan pekerjaannya, hal itu lah yang bisa kita katakan. Diam atau berkomentar yang baik. Memberi saran hanya jika ditanya.

Oiya, peran suami juga sangat diperlukan dalam kondisi ini. Seandainya ada sekolah untuk ayah atau sekolah hamil untuk para ayah tentu sangat membantu. Tanpa pengetahuan ayah tentang kondisi ini, ayah hanya akan menyalahkan si ibu karena tak becus mengurus anak dan rumah. Padahal kenyataannya istrinya sedang sakit dan butuh bantuan.

Aaaah, semoga kita semakin aware terhadap penyakit ini. Yaa, Baby blues dan PPD adalah penyakit yang tak semua orang tahu dan disepelekan. Namun memiliki dampak yang sangat buruk.

Mari lebih aware terhadap kesehatan mental ibu hamil dan ibu menyusui. Bukan kah dari ibu yang bahagia akan muncul generasi yang bahagia? Anak-anak yang bahagia dimasa kecil akan tumbuh menjadi orang dewasa yang baik. Terhindar dari pergaulan bebas. Karena begitulah penelitiannya. Anak-anak tak bahagia rentan masuk dalam pergaulan bebas. Naudzubillah.

Jadiii, mari bahagiakan ibu, agar anak bahagia.

Sumber:

https://www.google.com/amp/s/m.liputan6.com/amp/3558585/baby-blues-dan-depresi-postpartum-apa-bedanya

https://www.google.com/amp/s/doktersehat.com/depresi-postpartum-baby-blue-syndrome/amp/

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *