Anak 4,5 Tahun Mengajari Saya Parenting

10 September 2018

Percakapan Akhtar, papa Akhtar, dan saya tadi malam sebelum tidur.

🧒:Ma, kok mama sayang banget sama adik?
🧕: Oiya? Mama sayang juga sama Akhtar kok.
🧒:Tapi mama marah-marah. Marah-marah tambah senyum jadi separo kayak bulan separo.
👨: Oiya? Mama juga sering marah sama adik kan?
🧒: Iya, tapi dikit.
🧕: Mama lebih sering marah sama Akhtar ya? Kayak tadi pas Akhtar keluar gerbang? Mama bilang Akhtar jangan keluar gerbang nanti adik ikut. Tapi mama ga marah sama adik, gitu?”
🧒: Iyaa, kenapa?
🧕: Maaf ya Akhtar, mama marah-marah sama Akhtar. Mama bilang ke Akhtar aja karena Akhtar udah ngerti. Kalau adik sukanya ikutan Akhtar. Jd kalau Akhtar masuk, adik ikut masuk juga deh. Akhtar ga suka kalau mama gitu?
🧒: ga suka
🧕: Maaf ya, sini peluk mama. Mama sayang Akhtar kok. Oiya, kadang mama marah sama Akhtar karena Akhtar suka iseng sama adik. Adik jadi nangis. Akhtar kenapa suka iseng sama adik?
🧒: Soalnya mama marah-marah aku jadi ikut marah
🧕: Jadi karena mama marah, Akhtar jadi ikut marah? Terus Akhtar jadi iseng sama adik? Kl mama ga marah, Akhtar jadi baik sama adik?
🧒: Iyaaa.
👨: Terus kalau Akhtar ga mau maem atau ga mau bobo gitu gimana? Mama bilangnya gimana?
🧒: Akhtar, ayok bobo. Akhtar, ayok maem. Gituuu. Ga

Nak, jauh sebelum adik lahir, mama sudah mempersiapkan kalau-kalau Akhtar cemburu. Karena nak, mama pernah mengalaminya. Sampai umur 8 tahun mama jadi anak bungsu, setelah itu ada adik baru di umur mama yang kedelapan itu. Mama merasakan sekali mama cemburu pada adik baru dan mama merasa mama salaaaah terus. Itu umur mama 8 tahun lho nak. Apalagi Akhtar yang baru 3 tahun kemudian punya adik. Mama selalu berusaha mengutamakan kepentingan Akhtar dibalik kepentingan adik bayi, karena adik bayi, saat itu belum terlalu paham tentang kondisi sekitar dibanding kamu yang umurnya saat itu 3 tahun. Mama sudah mempersiapkan yang terburuk kalau-kalau Akhtar akan lebih banyak bertingkah dibanding biasanya. Namun, masyaAllah, Allah menitipkan anak luar biasa yang sayaang sekali pada adik (walau kadang caranya terlihat berbahaya dimata mama). Akhtar menangis saat adik menangis karena imunisasi dan Akhtar ikut pegang tangan adik. Akhtar selalu marah jika adik digendong orang lain, takut diambil katanya. Ketika adik bobo, Akhtar kasih selimut ke adik dan boneka disamping adik, biar adik ga nangis kalau bangun katanya. Sekarang, Akhtar gandeng adik, ajak main, dll. MasyaAllah, kadang mama bingung, begitu baiknya Allah memberi mama malaikat dihatimu padahal mama ini jauuuh dari sempurna.

Nak, pengalaman mama pernah cemburu pada adik dan bekal membaca buku parenting dan artikel parenting belum sepenuhnya bisa mama jalankan. Sekarang, ketika adik sudah mulai mengerti dan mulai muncul sifat egosentrisnya, mama merasa sudah waktunya sifat egosentris Akhtar mama pecah. Mama mulai mengajarkan Akhtar untuk berbagi dengan adik. Jika dulu mama memilih untuk mencarikan mainan lain untuk Adik, sekarang mama mulai tegas mengatakan pada Akhtar bahwa itu punya adik, jika adik mau pakai, harus Akhtar kasih adik.

Nak, mungkin perubahan itu juga yang membuat Akhtar merasa mama sayang sekali pada adik. Dan Akhtar merasa mama selalu marah-marah pada Akhtar dibanding pada adik. Aah nak, maafkan mama jika mama terlalu dini memecah egosentrismu dan membuat perubahan yang membuatmu tak nyaman. Nak, sepertinya mama harus ingat kembali bahwa umurmu masih kurang dari 5 tahun. Egosentris masih boleh ada didirimu. Maafkan mama ya nak, semoga teguran Allah lewat lisan mungilmu bisa membuat mama belajar lagi. Iya, belajar lagi lewat kata-katamu, seperti tadi malam.

Aaah Akhtar, dari kata-katamu tadi malam, mama belajar tentang bagaimana amarah berputar.

Mama marah -> Akhtar marah -> Akhtar iseng -> adik nangis -> mama marah.

Mama baik -> Akhtar senang -> Akhtar baik -> adik seneng -> mama senyum.

Akhtar juga mengajari mama bagaimana berbicara halus dan lembut pada Akhtar. Menyadarkan mama bahwa Akhtar sebenarnya mau kok menuruti perintah mama, asal dengan kata-kata lembut.

Bukan
“AKHTAAAAR, BURUAN MASUK! NANTI ADIK IKUT KELUAR!”

tapii,
“Akhtar, ayuk masuk, akhtar.”

Perbedaan intonasi dan cara berbicaramu ketika memberi mama contoh bagaimana berbicara membuat mama dan papa tertawa nak. Aaah nak, rasanya campur aduk hati mama nak. Antara terharu, anak 4,5 tahun mama terbuka dan mengerti bagaimana mengutarakan perasaannya kepada mama dan papa. Namun nak, ada hati kecil mama yang terluka karena merasa bersalah. Sekali lagi mama minta maaf ya nak, untuk sikap mama yang belum sepenuhnya adil untuk kalian berdua.

Terima kasih ya nak, selalu mengingatkan mama. Terima kasih sudah menjadi guru parenting terbaik mama. Menjadi partner belajar mama menjadi orang tua. Selalu begitu ya nak, ingatkan mama. Dan yang perlu Akhtar dan Arfa tahu, mama mencintai dan menyayangi kalian sama besarnya.

Mama love u both, Akhtar dan Arfa ❤❤❤

 

#odoprumlitipjepara

2 Komentar

  • Alif Kiky 10 September 2018pada09:02

    Wah.. inspiratif mbak 😍😍
    KomProd banget

    • tutikandarini 12 September 2018pada04:36

      Eh iya, ternyata aplikasi komProd ya mbak 😆😆😆

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *