Matematika itu Menyenangkan!

5 Juli 2019

Papa Akhtar sedang menjelaskan tentang konsep perkalian

Dua hari yang lalu, saya, suami, dan anak-anak akan pergi belanja bulanan. Saat sedang di kamar untuk berdandan, saya mendengar percakapan antara papa dan Akhtar.

πŸ§’: pah, 4 x 5 itu berapa? (Sepertinya Akhtar mendengar istilah perkalian tersebut dari iklan di TV)

πŸ‘¨: 20

Hening sesaat….

πŸ§’: bukannya 9? (Sepertinya tadi dia sedang menghitung menggunakan tangan. Empat untuk tangan kanan, 5 untuk tangan kiri)

πŸ‘¨: itu kalau 4 ditambah 9 akhtar. Kalau 4×5 itu 20.

Kemudian si papa terdengar sedang mencari sesuatu.

πŸ‘¨ : mah seblak (sapu lidi untuk kasur) dimana ya?

πŸ§•: kayaknya di luar pa, tadi buat mainan Arfa.

πŸ‘¨: ok

Beberapa saat kemudia….

Saya keluar kamar, sudah terlihat pemandangan seperti di foto. Suami membagi lidi di 5 tempat. Masing-masing berisi 4 lidi.

πŸ‘¨: gini lho Akhtar, kalau 4 dikali 5 itu, ada 4 lidi di 5 tempat. Ini 4 (menghitung 4 lidi di satu tempat). Ini 5 (menghitung 5 tempat yang masing-masing ada 4 lidi). Coba sekarang Akhtar hitung berapa semua lidi.

Akhtar pun menghitung satu demi satu lidi di 5 tempat. Saat dia tahu semua lidi berjumlah 20, dia senang sekali. Seperti melihat momen wow.

Aaah, belajar matematika ternyata bisa dimana saja, kapan saja, dan dengan apa saja. πŸ€—πŸ€—πŸ€—

===================================Matematika sebenarnya sangat sederhana dan menyenangkan bukan? Bahkan anak 5 tahun senang belajar perkalian. Tidak menakutkan sama sekali apalagi membuat stres.

Matematika ada dimana-mana dan dekat dengan keseharian. Jika mengaitkan matematika dengan kehidupan sehari-hari tentu sangat menarik. Juga sangat membantu kehidupan. Tak lagi ada pertanyaan, bertahun-tahun belajar sin, cos, tangen, log, dll untuk apa?

Matematika akan sangat berguna, menyenangkan dan menarik saat kemasannya dibuat unik. Sesuai kebutuhan si pembelajar. Terlebih jika keinginan belajar matematika berangkat dari keingintahuan anak. Materi yang diambil dari kehidupan sehari-hari.

Matematika bukan momok. Bukan juga pelajaran berat yang harus dikejar nilai tingginya. Karena matematika adalah sahabat. Teman bermain anak-anak. Tentu teman bermain orang tua juga. Tantangan untuk meningkatkan kreativitas orang tua.

Apalagi tuk anak usia dini. Mereka adalah scientist sejati. Mereka sudah dibekali dengan keingintahuan yang tinggi tentang apapun, termasuk matematika. Dengan sendirinya, mereka akan menemukan momen-momen dimana mereka sedang belajar matematika. Orang tua sebagai pemantik dan penerjemah saja. Tak perlulah menekan mereka untuk segera bisa ini dan itu.

Anak-anak sejatinya sudah terlahir hebat bukan? Kita, orang tua, yang seharusnya memantaskan diri untuk mendidik anak-anak hebat.

Bismillah…

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *