Aturan Gadged Di Rumah
Curhat , Keluarga / 28 Oktober 2018

Hampir 4 minggu menerapkan aturan maksimal 30 menit gadged/tv, 1821 (jam 6 sampai jam 9 malam no gadged, tv, dan kerjaan). Bagaimana rasanya? Campur aduk. Ada seneng, lega, ragu, bingung, dll. Seneng karena ternyata anak-anak tenang-tenang saja tanpa gadged. Bahkan si sulung sempat tak mau saya tawari gadged. Kreativitas terasah maksimal. Adaaa saja mainannya. Dua tutup botol minuman kemasan saja sudah bisa mereka gunakan untuk main. Lega karena saya kembali bisa menerapkan aturan gadged yang sempat hilang. Karena yakin betul bahwa penggunaan gadged tanpa aturan membuat tak baik pada tumbuh kembang anak. Bingung karena ternyata saya yang merasa kehilangan gadged. Kalau biasanya bisa intip-intip WA atau berselancar di FB atau IG, awal penerapan aturan berasa sekali kehilangannya. Sebenarnya saya tipe yang bisa tanpa gadged. Tapi sejak menyandang predikat IRT, gadged lah tempat saya berinteraksi dengan dunia luar. Tempat banyak informasi didapat. Tanpa melihat gadged terasa semakin terkurung di dalam rumah saja. Apalagi jika jam tidur anak-anak bergantian alias tak berbarengan, tak ada waktu sama sekali untuk saya lihat HP dalam 1 hari. Dua minggu berjalan akhirnya ada sedikit perubahan. Yang awalnya saya dapat jatah lihat gadged ketika anak-anak tidur, diberi kelonggaran untuk sesekali lihat WA. Aturan anak-anak tetap seperti semula….

Hari ini Akhtar Resmi Tak Sekolah
Curhat , Keluarga / 10 Oktober 2018

Resmi sudah menyandang predikat orang tua anakΒ  4,5 tahun yang tidak sekolah (tidak sekolah bukan berarti tidak terdidik ya). Hmmm, rasanya? Campur aduk. Ada rasa lega karena tak lagi sungkan pada sekolah karena hampir tak pernah sekolah. Atau memikirkan uang sekolah yang harus dibayar tiap bulan tetapi si anak hanya 1 atau 2 kali berangkat πŸ˜™. Ada juga rasa tak enak jika ada yang bertanya tentang sekolah anak pertama saya, Akhtar. Walaupun sebenarnya saya yakin dengan keputusan ini. Bahwa saat ini tidak menyekolahkan Akhtar adalah pilihan terbaik. Beberapa kali ada yang bertanya tentang umur dan sekolah Akhtar. “Umur berapa? Udah sekolah?” Tanya beberapa orang. “4,5 tahun. Sudah”. Jawab saya. “TK ya?” “PAUD” “Kok masih PAUD bukannya harusnya sudah TK? Begitulah beberapa pertanyaan yang sering saya dapat. Jika umur 4,5 tahun masih PAUD saja dipertanyakan bagaimana dengan yang tidak sekolah? Kemungkinan akan semakin banyak pertanyaan dan saran-saran yang akan saya dapat. Iya. Saya memang penganut tidak segera menyekolahkan anak. Sbenarnya sejak awal saya ingin menyekolahkan Akhtar di umur 6 tahun. Langsung TK. Mengapa? Karena saya meyakini bahwa pendidikan anak usia dini paling baik adalah di rumah. Tugas mereka hanya bermain dan bahagia. Selain itu pakar parenting seperti ibu Elly Risman dan…

Tips Menata Suasana Hati Kembali Baik ala Saya
Lain-lain / 4 Oktober 2018

Ada yang pernah mengalami? Ketika kita dalam suasana hati yang buruk, anak-anak terasa lebih menjengkelkan, mudah rewel, dan sulit untuk ditenangkan? Atau sebaliknya. Ketika kita dalam suasana hati yang baik, anak-anak pun lebih manis dan terasa lebih mudah ditenangkan ketika rewel? Saya pernah. Bahkan sering. Seperti pagi ini di hari ke-4 kami menerapkan maksinal 30 menit main gawai/nonton tv. Ketika pagi saya mulai dengan suasana hati yang buruk, anak-anak bangun dengan berbagai macam rengekan dan rewel. Kemudian sulit menghentikan rewel mereka. Kepala yang berat terasa semakin berat. Lalu, saya mencoba menenangkan diri. Mengumpulkan kembali semangat menemani anak. Mulai membangun suasana hati yang baik. Bagaimana caranya? 1. Saya minum teh hangat. Bagi saya, belum minum teh hangat di pagi hari akan berakibat kepala berat yang kemudian membuat suasana hati tak enak. Jadi memang sudah menjadi kebiasaan bagi saya minum teh hangat di pagi hari. 2. Sarapan. Selain memang dianjurkan oleh berbagai ahli untuk dilaksanakan agar hidup sehat, sarapan membuat saya bisa lebih bertenaga dan membangun suasana hati yang baik. Jika merasa moody, saya akan ingat-ingat sudahkah saya sarapan. 3. Ingat-ingat waktu ribet dan rewel anak-anak tak akan lama. Nikmati! Sugesti ini sering saya pakai ketika semangat turun dalam menemani anak-anak menjalani…

Melatih Konsistensi
Curhat , Keluarga / 2 Oktober 2018

Hari kedua menerapkan 30 menit screenstime. Dua hari tanpa menyalakan TV sama sekali. Dua hari yang membuat saya semakin semangat menjalani hari karena banyak kegiatan yang harus saya persiapkan untuk mengisi waktu anak-anak. Beberapa kali Akhtar merengek minta main gawai atau menonton TV. Namun beberapa kali pula saya menjelaskan tentang dampak yang kurang baik untuk perkembangan otak anak jika anak terlalu banyak melihat layar. Atau beberapa kali pula dia menawar. Seperti siang tadi ketika tahu papanya akan pulang larut malam. “Kalau gitu nanti malem aku main henpon lagi. Kan papa pulangnya malem.” Akhtar mencoba menawar karena biasanya saya akan memberinya gawai ketika saya ngeloni adiknya. “Tadi siang Akhtar sudah nonton 20 menit, jadi nanti ga nonton lagi yaa.” “Kenapa?” “Karena kalau ditambah nontonnya, nanti terlalu banyak buat Akhtar, nanti otaknya bisa rusak.” “Kaan dulu boleh.” Tanya Akhtar. “Maaf ya Akhtar, dulu mama belum tau jadi masih boleh. Sekarang mama sudah tau. Mama takut, kalau Akhtar terlalu banyak nonton, otaknya belum kuat.” Jawaban spontan saya mendengar pertanyaan Akhtar. Duh, termasuk bohong ga ya, karena sebenarnya dulu saya sudah tahu. πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘ Memberi penjelasan tentang aturan gawai memang tak terlalu sulit tetapi tantangan lain hadir. Salah satunya adalah semakin banyak ide dan tenaga…

Gara-Gara PSPA
Curhat , Keluarga / 1 Oktober 2018

PSPA adalah Program Sekolah Pengasuhan Anak oleh Abah Ihsan. Beliau adalah praktisi parenting dan sudah memberikan pelatihan pengasuhan anak di berbagai kota di dalam dan luar negeri selama 13 tahun. Atas ijin Allah, kemarin saya dan suami berkesempatan mengikuti program tersebut. Walaupun pada akhirnya di hari kedua saya tak bisa ikut karena anak-anak. Hanya suami yang lanjut seminar. Sebenarnya kemarin saya berniat untuk menulis tentang kegiatan apa saja dan materi apa saja yang diberikan di seminar. Namun sepertinya kurang baik jika saya menyampaikan sepotong-sepotong karena memang saya tak mengikuti keseluruhan materi. Jadi, sekarang saya hanya ingin bercerita sedikit tentang perubahan yang dialami suami setelah ikut PSPA. Selama ini suami sebenarnya sudah sangat membantu saya dalam pengasuhan anak-anak. Beliau sering bermain dan menyediakan waktu dan hatinya untuk anak-anak. Membantu mengerjakan berbagai macam kegiatan rumah tangga untuk membantu saya fokus pada anak. Tetapi entah bagaimana, saya merasa masih ada yang mengganjal. Tak ada jiwa dikegiatan yang dilakukan suami untuk anak-anak. Seolah-olah raga saja yang berjalan karena informasi-informasi yang saya berikan untuknya. Selama inipun sering ikut seminar bersama saya tetapi pada akhirnya beliau memilih bermain bersama anak-anak dan menyerahkan belajar parenting kepada saya. Namun, kemarin beliau bisa bertahan selama 25 jam mengikuti acara…